Perlu 7 Obat Penyakit Kronis Umat Islam Pascaproses Pendaftaran Pilkada Jakarta

Foto : pks.or.id


Ngelmu.com - Banyak peristiwa yang terjadi dan bersliweran di depan mata umat, dari awal tahun 2016 hingga terjadinya proses pendaftaran calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) DKI Jakarta.

Nampak jelas umat Islam dan para tokoh-tokoh da'wahnya seperti terombang-ambing di pinggiran pusaran dan belum mampu menjadi pusat kumparan yang menggerakkan kepemimpinan umat apalagi negara.

Dari berbagai "kehebohan dan keruwetan" itu ada baiknya jika kita mulai menjalani "proses pengobatan" terhadap setidaknya tujuh penyakit kronis yang melanda umat Islam pada umumnya dan muslim Jakarta pada khususnya.


1. Lemahnya kesatuan gerak partai politik (parpol) Islam dalam menentukan pilihan langkah

Foto: Suara.com

Syarat pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta memperlihatkan betul bahwa memiliki partai politik Islam yang kuat dan bersatu merupakan kunci penting menuju ajang kompetisi pemilihan kepala daerah secara nasional.

Faktanya partai Islam terpolarisasi di dua kubu pasangan cagub dan cawagub. Parpol Islam terlihat kesulitan untuk menemukan "jagonya" dalam ajang pilkada Jakarta kali ini.

Beberapa parpol Islam nampak gagap dalam mengajukan calon dan ujungnya menjatuhkan pilihannya pada kelompok yang "lebih jelas" dukungan "logistiknya".

Selain itu ada juga parpol Islam yang merelakan "jatah" cawagubnya  diambil, berkorban dengan menjelma menjadi "lem perekat" umat. Banyak yang menyidindir satir, tapi banyak pula yang memujinya sebagai sikap kenegarawanan.


Sementara berbagai jamaah dan kelompok pengajian yang memiliki basis massa "enggan" berjuang melalui parpol. Ujungnya mereka cuma bisa "menekan" melalui diskusi, dialog bahkan aksi massa. Namun ujungnya keputusan tetap berada di petinggi partai politik.

Menjadi penting bagi pimpinan para ormas dan tokoh muslim untuk memiliki hubungan yang baik dengan para petinggi partai politik Islam dan diimbangi juga hubungan yang baik di level jamaah akar rumputnya.

Dalam kondisi seperti pilkada Jakarta 2016, menjadi tidak relevan, aksi saling mengkritik destruktif dalam bentuk hujatan dari pimpinan ormas muslim terhadap parpol Islam ataupun sebaliknya.

Seyogyanya yang muncul ke permukaan adalah aksi kontinyu untuk saling membangun kerjasama konstruktif dalam kerja memperbaiki kondisi umat. Termasuk mengkritik dengan cara yang paling baik sehingga tidak menimbulkan gesekan yang menyisakan luka perasaan yang menganga lebar dan dalam di hati jamaah akar rumput.


Menjadi makin tidak relevan juga ajakan umat muslim untuk tidak ikut mencoblos alias golput. Apalagi pemikiran yang menyatakan umat muslim tak perlu mengikuti demokrasi tapi langsung saja mendirikan khilafah.

2. Sulit Mencari Titik Temu Berbagai Kelompok


Terlepas dari hasil pasangan cagub-cawagub yang diperoleh, dari prosesnya nampak sekali berbagai unsur pemimpin umat telah coba diajak bergabung, namun belum berujung pada pilihan yang didasari kesatuan langkah semua parpol dan jamaah Islam.

Dari berbagai latar belakang itu, selayaknya umat makin bisa melihat jelas seperti apa model para pemimpin mereka. Betulkah mereka semata-mata mementingkan umat muslim atau hanya sekadar menjadikan momen ini posisi tawar untuk mendapatkan "jatah logistik" dan iming-iming sesuatu jika kandidatnya menang.

Momen pendaftaran kandidat di pilkada Jakarta telah "memaksa" semua pimpinan umat yang merasa ingin berbuat untuk turun gunung mencari solusi. Kondisi ini membuat momen pilkada menjadi salah satu ajang titik temu berbagai aliran pemikiran dan gaya kerja yang selama ini menjadi mozaik kekaryaan umat muslim.

Ada kandidat, sebut saja Anies Baswedan, yang telah ditabayyun dan ternyata bukan penganut Syiah dan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), tapi kandidat ini pastinya bisa berkomunikasi dengan penganut syiah dan kelompok JIL.

Kondisi ini menjadi unik dan menarik karena sang kandidat bisa menjadi "interface" komunikasi antara kelompok-kelompok Islam yang selama ini sulit bertemu dan bekerjasama. Kerja-kerja dalam pilkada Jakarta harusnya makin bisa membuat satu sama lain saling mengenal, memahami dan membina komunikasi yang baik sehingga dapat meminimalisir kesalahpahaman yang kerap terjadi, khsususnya di level jamaah akar rumput.

Momen pilkada seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai awal membangun kesadaran untuk bekerjasama membangun negeri dan saling menghormati pilihan-pilihan kontribusi dalam bingkai fastabiqul khairat.

3. Sering Gagal Membaca Jernih Distorsi Informasi


Proses pendaftaran kandidat di Pilkada DKI Jakarta juga menunjukkan betapa distorsi informasi membanjiri ruang-ruang media sosial di kantong-kantong terdalam diskusi strategis umat Islam.

Kelatahan jempol untuk share dan copy paste berbagai pesan yang datang tanpa diimbangi tabayyun menjadi bahan bakar membesarnya nyala api distorsi yang membakar segala informasi yang lurus. Ujungnya umat dibuat ragu, bingung, bahkan bisa berbalik mendukung kanddat yang tidak memikirkan kepentingan muslim.

Kesabaran menahan syahwat jempol dalam dunia media sosial di kantong-kantong diskusi umat Islam sepertinya perlu diimbangi dengan kemampuan literasi yang harus ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Kemampuan literasi umat perlu ditingkatkan karena pola distorsi dan pengalihan isu memiliki banyak cara dan variasi serta terus berkembang dalam wajah dan format baru. Hal ini bsia terjadi karena proyek distorsi dan pengalihan isu kini sudah menjelma menjadi sebuah industri yang main mapan seiring kemajuan teknologi dan aplikasi komunikasi. 

4. Belum Merilis Hasil Survei Mandiri Yang Kredibel Sebagai Pembanding


Mengkritik keputusan yang diambil tidaklah banyak berguna dalam kondisi seperti ini. Ada serangkaian "sindiran" yang mengatakan bahwa masuknya nama Anies Baswedan ke dalam bursa adalah peran dari dua lembaga survei, yakni Poltracking-nya Hanta Yudha dan survei salah satu parpol yang digawangi Eep Saefullah Fatah.

Jika tidak ingin masuk dalam "jebakan" survei pihak lain yang punya kepentingan, mengapa umat muslim tidak bahu membahu mengadakan survei sendiri yang juga kredibel dan independen sebagai pembanding.

Sudah saatnya muslim sebagai warga mayoritas memiliki lembaga survei mandiri yang didedikasikan untuk membela kepentingan umat dalam berbagai isu, tidak hanya untuk isu politik. 

5. Belum Kuat Membangun Basis Jaringan Pengusaha


Berdasarkan bocoran dari seorang menteri kepada wartawan senior tvOne Hannibal Wijayanta yang ditulisnya di laman facebooknya, konon telah terjadi transaksi trilyunan rupiah untuk memenangkan salah satu pasangan kandidat dalam pilkada Jakarta. Hal ini menjadi isyarat benderang bahwa jaringan bohir serta pemodal kelas kakap mulai menurunkan bantuan amunisisnya.

Kondisi transsaksional di dunia politik dan pengusaha tak bisa dilihat secara kasat mata namun juga sulit untuk disangkal. Tapi umat hanya perlu berpikir logis bahwa bagi pemain kelas kakap apa artinya keluar uang Rp10 triliun tapi nantinya bisa ikut "mengendalikan" Jakarta yang memiliki anggaran belanja ratusan triliun rupiah tiap tahunnya.

Konon kabarnya, sudah ada skenario untuk menggunakan strategi "logistik rayuan" senilai Rp2juta per kepala yang diincar (biasanya mereka yang tingal di kantong-kantong penduduk Jakarta kelas bawah) untuk memilih kandidat tertentu.

Kondisi ini harusnya makin mencambuk para pemimpin umat untuk bisa membentuk kader-kadernya yang mumpuni di bidang usaha dan bisnis. Atau setidaknya bisa menjalin komunikasi keumatan dengan pengusaha-pengusaha kelas kakap di negeri ini. Meski jalan ini sangat rawan membuat sang tokoh umat tersandung dengan gemerlap dunia.

Namun bukan berarti jalan ini sebaiknya ditinggalkan. Justru saat ini dibutuhkan kader-kader umat yang bisa berkomunikasi baik dengan pengusaha besar tapi tidak terlena dengan godaan harta, sebuah tantangan!

6. Belum Banyak Muncul Kader Muslim Yang Mumpuni Secara Profesi Sekaligus Dibangun Basis Pendukungnya


Jaringan Profesi juga menjadi penting untuk disemarakkan oleh kader-kader umat Islam yang memiliki prestasi dan kehalian yang kinclong namun tidak hanya egois mementingkan dirinya sendiri.

Jaringan lintas profesi bisa mengawal kepentingan umat untuk tetap berada di depan dan perbaikan negeri menjadi prioritas bukan justru membiarkan segala kekayaan Indonesia dirampas.

Kerja di bidang profesional memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa.

Kondisi yang terjadi saat ini adalah para profesional yang jujur dan berdedikasi sangat takut bersuara apalagi berpolitik membela kepentingan umat, sementara yang duduk sebagai pejabat pemerintahan dan wakil rakyat justru tidak terlalu paham dan menguasai bidang yang menjadi amanah untuk diawasi perjalanannya.

Saat ini menjadi penting memiliki kader umat yang mumpuni di bidangnya namun mulai sejak dini "digarap" juga perannya di tengah masyarakat. Jadi yang muncul nanti adalah sosok muslim tangguh yang bisa memberikan solusi bagi permasalahan rakyat secara nyata di lapangan. Bukan semata tokoh yang muncul dengan pola pencitraan kosong yang dipaksakan, "Branding" yang menipu dan miskin realisasi.

7. Membangun Komunikasi Yang "Seharusnya" Pada Non Muslim


Ajang pilkada Jakarta juga selayaknya bisa menjadi momen para tokoh umat dan jamaah akar rumput untuk menunjukkan sikap yang seharusnya pada non muslim.

Umat muslim harus membawa ajang kompetisi pemilihan kepala daerah ini sebagai wahana adu program kerja dan gaya memimpin, bukan semata hanya karena perbedaan kepercayaan. Membawa perdebatan ke arah beda agama tidak akan memberikan dampak kontruktif ke depannya, karena banyak parameter lain yang harus dimiliki pemimpin Jakarta, bukan semata agama. 

Momen ini juga harus dimanfaatkan oleh umat muslim untuk menunjukkan bahwa mereka tidak membenci non muslim.  Umat muslim hanya ingin memilih non muslim mana yang bisa diajak kerjasama, berjalan beriringan saling bantu membangun negeri tercinta dalam bingkai kontribusi yang saling menghormati satu sama lain.






COMMENTS

loading...
Nama

10 tahun pernikahan,1,14 rumah sakit nakal,1,2 tahun jokowi-JK,2,30 September,1,Aceh,3,Administrasi,1,Agung,1,agus yudhoyono,1,aher,1,ahmad musadeq,1,Ahok,17,Ahok Maju Jalur Partai,4,ahok menghina islam,8,ahok tersangka,2,ahok tidak boleh jadi gubernur,1,ahok tidak ditahan,1,ahok tidak mau cuti,1,Air Zam-zam,1,ajaran islam,1,aksi 2 desember,13,aksi 212,20,aksi 312,1,aksi 412,1,aksi bela islam jilid III,5,aksi damai 212,6,aksi damai bela islam III,6,aksi demo 4 november 2016,6,Akuntnsi,1,al maidah ayat 51,3,alasan ahok tidak ditahan polisi,1,amerika,1,amnesti pajak,1,Anak,5,Anak dan Media,1,anak dan remaja,2,analytics,1,Anies Baswedan,3,automotif,2,ayah muda,1,bachtiar nasir,1,Banjir,1,Bank,1,bantuan langsung tunai,1,barang bekas,1,batubara,1,Bela diri Berhijab,1,Berita,15,Biografi,1,Biografi Tokoh,12,Bisnis,1,bisnis makanan halal di AS,1,blt,1,boy sadikin,1,BPJS Palsu,1,bullying,2,bullying dalam kisah doraemon,1,bullying pada anak,2,buni yani,1,buni yani pengunggah video ahok,1,buni yani tersangka,1,calon gubernur dki,3,Cara,7,Cara Memilih Hewan Kurban,1,cara menghindari bullying,1,che guevara,1,Cium Tangan Politisi,1,cuti kampanye ahok,1,dahlan iskan,1,Dari,1,Dasar,1,demo 2 Desember 2016,1,demo 4 november,2,demo bela islam dan isu makar,1,demo bela islam II,2,demo bela islam III,1,demo BEM seindonesia,1,demo mahasiswa,1,demo tolak pemimpin kafir,1,demo tolak reklamasi,2,Demokrasi,1,Deradikalisasi,1,Detik,1,Dirgahayu TNI,2,dirjen pajak,1,Diusir,1,Donald Trump,3,dosa-dosa bersosial media,1,dukun,2,dukun penipu,2,Dunia Islam,7,dunia mistis,2,Durian Lokal Unggul,1,Ekonomi,4,ekosistem,1,Eksekusi Mati,1,elly risman,6,Email,1,Epilog,1,Erdogan,2,fashion,1,Fethullah Gulen,1,fidel castro,1,fidel castro dies,1,fidel castro meninggal,1,fidel castro wafat,1,Filsafat,1,fotografi,1,gadget,3,Gadget Nokia,1,gafatar,1,Games Terbaru,1,Garam,1,gas air mata,1,Gaya Hidup,3,gaya jilbab,1,Globalisasi,1,GNPF MUI,1,Go-Jek,1,gubernur jawa barat,1,Gula,1,habib rizieq shihab,1,Habibie,4,Haji,4,Haji 2016,1,Hak Asasi Manusia,2,halal haram,1,hari pahlawan,1,hayono isman,1,Hewan,1,Hijab,1,Hoax,1,hujan saat aksi 212,1,Hukum,3,Hutan Indonesia,1,Ibrah Renungan,85,Ideologi,1,Idul Adha,1,Ikan Paus,1,Ilmu,1,ilmu sihir,1,imunisasi,3,Indonesia,3,Indonesia Raya,1,informasi pendidikan,1,Inspirasi,2,Internet,2,ISIS,1,Istri Bung Tomo Tutup Usia,1,Isu Hangat,224,isu makar,1,isu reshuffle Kabinet 2016,2,jajanan anak,1,jajanan berbahaya,1,jajanan sekolah,1,Jalan Raya,1,Jasmani,1,jembatan roboh,1,jilbab,1,jilbab indonesia,1,Joko Widodo,1,Jokowi,2,Jokowi Rombak Kabinet Jilid II,1,jpo pasar minggu roboh,1,jpo roboh,1,kader partai yang membelot di pilkada dki,1,kafir,1,kajian reklamasi,1,Kandungan Vaksin,1,kapolri Tito Karnavian,1,karakteristik korban bullying,1,kartu jakarta pintar,1,kasus penistaan agama,3,kasus vaksin palsu,2,Kata Mutiara Habibie,1,Keamanan Siber,1,Kebudayaan,1,Kebugaran,1,Keislaman,1,kelompok radikal,1,keluarga,2,kemenkes,1,kenapa ahok tidak boleh jadi gubernur,1,Kepemimpinan,1,kerajinan tangan,1,Kerusuhan SARA di Medan,2,Kesehatan,17,Kesehatan Mata,1,Keutamaan,5,kiamat,1,Kisah,1,Kivlan Zein,1,kjp,1,KKR Natal,1,klenik,1,Kolam Renang Unik,1,Kompetisi Halal Dunia,1,Komputer,1,Komunikasi,1,konflik suriah,1,Konstitusi,1,Koperasi,1,korban terorisme,1,KPK,1,Kucing,1,Kucing Anggora,1,Kudeta Turki,6,Lingkungan,4,lukas enembe,1,mafia jpo,1,mafia reklame,1,mahesa kurung,1,mahkamah konstitusi,1,Makam Fiktif Di Jakarta,1,makanan halal,1,makna 4 November,1,Malapetaka Duryudana,1,Manajemen,1,Manfaat,1,manfaat daun patah tulang,1,Marketing,1,Masjid,1,Mata,1,Media Sosial,2,megawati soekarnoputri,1,mengenal penipuan skema ponzi,1,menggunakan analytics untuk memenangkan pemilu,1,menjaga kebersihan,1,Metrotv,1,MK,1,MUI,1,Muslim Rohingya,1,Narkoba,1,Nasional,1,Negara,2,ojk,1,Olahraga,40,operasi tangkap tangan KPK,1,Opini,118,Optimalisasi Tax Amnesty Bagi Wajib Pajak dan UMKM,2,Orang Baik,1,orangtua dan anak,3,Organisasi,1,otomotif,2,pahlawan keluarga,1,Pajak,1,Panasbumi,1,pancasila,1,parenting,9,pasangan suami istri,2,Pebalap Lokal Siap Bersaing,1,pegawai ditjen pajak ditangkap KPK,1,pelecehan al quran,1,peluang usaha,1,Pembantaian Muslim,1,pemerintahan jokowi-JK,2,Pemimpin DKI,1,pendidikan,4,pengasuhan anak,7,Pengelolaan Harta,1,pengembang reklamasi,2,Pengertian,34,Pengertian Budaya,1,Pengertian Deradikalisasi,1,Pengertian Pendidikan,1,Pengertian Petahana,1,pengertian provokasi,1,pengertian proxy war,1,pengetahuan,1,pengusaha dan penguasa,1,penipuan,1,penipuan skema piramida,1,Penjarakan Ahok,3,Penutupan Sekolah,1,penyakit akibat tikus,1,penyakit dari sosial media,1,penyakit dari tikus meningkat di musim hujan,1,Perang Narkoba,1,perdukunan,1,Peristia,1,Peristiwa,43,pernikahan,1,pernyataan kapolri tentang demo bela islam III,1,Persis,1,pilkada DKI,4,Pilkada Jakarta 2017,52,Pilpres Amerika,4,PLTU batubara,1,pokemon,2,Polemik Wukuf Di Karbala,1,Politik,21,politik dalam islam,1,Politik Hukum Keamanan,1,politik islam,1,Politik Luar Negeri,1,Polri,1,ponzi scheme,1,Populasi pengguna Internet,1,ppatk,1,praktek perdukunan,1,Predator Anak,1,presiden AS,1,Presiden Joko Widodo,1,Produk Mengandung Babi,1,program cagub DKI,1,program listrik 35.000 MW,1,program perburuan tikus di DKI Jakarta,1,Provokasi,1,psikologi anak,2,Puisi,36,R.A Kartini,1,radikalisme,1,reklamasi teluk jakarta,3,reklamasi untuk siapa,1,renungan,2,Reshuffle Jilid II,7,Reshuffle Kabinet 2016,4,Revisi PP Telekomunikasi,1,Revisi UU Telekomunikasi,1,revolusi jilbab,1,Ridwan Kamil,3,risalah istiqlal,1,rokok,1,ruhut sitompul,1,Rupa,1,Sains,2,sakit jiwa dan sosial media,1,salafi,1,Sampah Jakarta,1,Sandiaga Uno,1,SARA,1,sayembara tikus,1,Sehat secara Islami,1,Sejarah,8,Sejarah Jakarta,1,selingkuh,1,Seni,2,Serba-serbi,4,sertifikat halal,2,seven deadly sins,1,Shalat Tahajud,1,si buni yani,1,Simbol Haji,1,Sistem,1,skema ponzi,1,Soekarno,1,sosial media,1,Sosiologi,1,sosmed,3,Sosok,6,Sri Mulyani,2,stop bullying,2,Suara Mahasiswa Indonesia,1,sugesti,1,sumber energi,1,surat Sri Mulyani,1,Sutan Bhatoegana tutup usia,1,tabligh akbar istiqlal,1,Tanggal Libur 2017,1,Tanjung Balai Medan,2,Tata Cara Berkurban,1,tax amnesty,7,teknologi,8,Telekomunikasi,2,Telkomsel,1,tentang islam,1,terhangat,1,teror perancis 2016,1,Teroris,2,terorisme,2,TNI,1,Tokoh,2,tokoh aksi demo 4 november,1,Tokoh Pers Nasional,1,tokoh-tokoh penistaan agama,2,tolak pemimpin kafir,1,tolak reklamasi,2,Turki,1,uji materi UU Pilkada,1,UNAS,1,Universitas Indonesia,1,unjuk rasa mahasiswa,1,UU sertifikasi produk halal,1,vaksin asli,1,vaksin palsu,5,video,21,wahabisme,1,Wakil Rakyat Main Judi,1,Wiranto,1,Wirausaha,1,wisata,1,Workshop Panasbumi,1,Workshop UI,1,yenny wahid,1,
ltr
item
Ngelmu.com: Perlu 7 Obat Penyakit Kronis Umat Islam Pascaproses Pendaftaran Pilkada Jakarta
Perlu 7 Obat Penyakit Kronis Umat Islam Pascaproses Pendaftaran Pilkada Jakarta
https://2.bp.blogspot.com/-BJa57NSRFkU/V-mZ_HVE-aI/AAAAAAAAG6Q/n5uZzKPQw48n_1K4YKc_TjgnNndy5O62ACLcB/s640/Obat%2BPenyakit%2BKronis%2BUmat%2BIslam%2BPascaproses%2BPendaftaran%2BPilkada%2BJakarta%2Bpks%2Bor%2Bid.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-BJa57NSRFkU/V-mZ_HVE-aI/AAAAAAAAG6Q/n5uZzKPQw48n_1K4YKc_TjgnNndy5O62ACLcB/s72-c/Obat%2BPenyakit%2BKronis%2BUmat%2BIslam%2BPascaproses%2BPendaftaran%2BPilkada%2BJakarta%2Bpks%2Bor%2Bid.jpg
Ngelmu.com
http://www.ngelmu.com/2016/09/obat-penyakit-kronis-umat-islam.html
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/2016/09/obat-penyakit-kronis-umat-islam.html
true
2232086029491933273
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy