Anniversary Kedua Jokowi, Sudah Waktunya Kita Berhenti Terpesona

Bulan Oktober 2016 menjadi milestone penting bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dua tahun sudah mereka memimpin negara ini. Tentu banyak pencapaian-pencapaian yang berhasil dilakukan, tidak elok jika menutup mata. Toh masing-masing presiden dan kabinetnya tentu memiliki prestasi masing-masing. Meskipun demikian tidak perlu juga sengaja memperindah sesuatu yang kenyataannya kurang indah. Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang belum berhasil dituntaskan oleh Jokowi dan para pembantunya. Catatan dari koresponden Nikkei Asia Hamish McDonald tampaknya cukup baik menjabarkan bagaimana sudah saatnya kita berhenti terpesona dan menganggap bahwa Jokowi adalah sesosok enigma.


Mungkin Jokowi adalah satu-satunya presiden terpilih di Indonesia yang tampak begitu memesona dan dicitrakan serba bisa dan serba tahu. Pada tanggal 25 Oktober 2014 Joko Widodo disumpah sebagai presiden ke-7. Keberhasilannya mengalahkan rival Prabowo tidak lain merupakan hasil dukungan media yang gencar menggambarkan sosok Jokowi sebagai tokoh yang bersih tanpa cela dan rendah hati, berbeda sekali dengan sosok politisi yang selama ini digambarkan korup dan bermuka dua.

Selama 2 tahun pemerintahannya terbukti bahwa mantan pebisnis dan wali kota yang sederhana ini pada kenyataannya adalah “politisi pada umumnya” yang telah belajar untuk “mengakomodasi” pesaing yang korup dan tukang pencari rente. Eve Warburton, seorang spesialis Indonesia di Australian National University mengatakan hal tersebut.

Pada bulan-bulan pertamanya, Jokowi sempat merasa kewalahan. Ia harus menghadapi parlemen yang dikontrol oleh gabungan lawan politiknya yang mendukung mantan rivalnya di pemilihan sebelumnya, mantan Jenderal prabowo Subianto.

Bahkan partai pendukungnya sendiri, PDIP, menjadi sekutu yang aneh. Ketua partai Megawati Soekarnoputri selalu berusaha untuk tampil bahwa ia adalah “atasan” presiden. Bahkan Mega sempat memaksa Jokowi mengangkat salah satu orang kepercayaan Mega, Budi Gunawan, sebagai Kapolri.

Saat KPK menyelidiki harta kekayaan Budi yang besarnya tidak masuk akal, pendukung Budi di kepolisian balik menyerang petinggi KPK dengan berbagai tuduhan yang mencurigakan. Sampai saat ini rekening gendut pak polisi tidak jelas pengungkapannya.

Kombinasi dari terhentinya booming harga komoditas yang telah mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 12 tahun belakangan dan upaya penggembosan KPK berbalik merugikan Jokowi, meskipun akhirnya ia menarik kembali rekomendasi Budi sebagai Kapolri. Pada pertengahan tahun 2015 tingkat penerimaan publik terhadap presiden turun menjadi 41%.

Di tahun 2016 Jokowi berhasil rebound dengan kenaikan tingkat penerimaan di angka 68%. Kondisi ini tidak lepas dari keberhasilannya untuk mengonsolidasikan kekuatan-kekuatan politik yang tadinya menjadi oposisi menjadi pihak pendukungnya. Saat ini Jokowi memiliki koalisi besar di parlemen dengan menguasai 69% suara DPR RI. Koalisi Merah Putih yang tadinya menjadi pihak oposisi terbukti – seperti yang sudah sejak awal diramalkan – runtuh dengan sendirinya. Dan aksi reshuffle kabinet di bulan Juli 2016 menunjukkan kepada publik bahwa Jokowi BUKAN bawahan Mega.

Taktik Politik Tradisional

Jokowi sendiri berhasil mengokohkan koalisi di parlemen dengan taktik politik tradisional a la Indonesia: intervensi partai-partai oposisi untuk menjatuhkan pemimpin partai yang melawannya dan menggantikan dengan pemimpin partai yang mau kerja sama. Dan tentu saja Jokowi juga tak lupa “menghadiahkan” partai-partai tersebut kursi menteri di kabinetnya sebagai “tanda persahabatan”.
 
JK dan Luhut, dua sosok penting bagi Jokowi
Wapres Jusuf Kalla dan menteri senior terdekat Jokowi, Luhut Panjaitan, adalah dua kekuatan uang di kabinet Jokowi. Bersama mereka berhasil “menjinakkan” partai Golkar yang tadinya menjadi oposisi. Ketua partai Aburizal Bakrie berhasil dilengserkan setelah Ical sendiri berada dalam posisi yang rentan karena kerajaan bisnis batu bara dan trading miliknya berada dalam kesulitan ekonomi.

Lengser Bakrie, terbitlah Setya Novanto. Setelah dipaksa mengundurkan diri dari posisi juru bicara parlemen tahun lalu setelah skandal percakapan teleponnya terkait Freeport terbongkar ke publik, Setya berhasil mencapai posisi yang lebih empuk sebagai ketua partai Golkar yang melegenda di jagad perpolitikan Indonesia. Setya dengan patuh membawa partainya kembali ke pemerintahan. Dua “partai Islam” ikut serta.

Di bulan Juli Jokowi melakukan reshuffle kabinet yang menjatuhkan beberapa orang menteri yang dianggap terlalu banyak membangkang atau terlalu populer.

Tangan kanannya, Luhut Panjaitan yang sebelumnya menjabat sebagai Menkopolhukam dimutasi. Posisi Luhut sebelumnya memang memberinya kekuasaan untuk bertingkah layaknya “perdana menteri”. Sekarang Luhut menjabat sebagai Menkomaritim dan ESDM, sebuah jabatan yang sebenarnya tidak kalah strategis dan “basah”. Posisi sebelumnya diberikan kepada mantan Jenderal Wiranto, ketua partai yang sejak awal setia kepada Jokowi.

Jokowi menjatuhkan dua tokoh reformis. Anies Baswedan dicopot dari posisinya sebagai Menteri Pendidikan meskipun kinerja Kementerian Pendidikan di bawah kepemimpinannya dinilai sangat memuaskan. Satu lagi adalah Sudirman Said, mantan aktivis anti-korupsi yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri ESDM. Sudirman tercatat sukses menghancurkan salah satu sumber korupsi besar di sektor energi selama menjalankan tugasnya sebagai menteri.

Sektor Ekonomi Kembali Jadi Prioritas

Salah satu pergantian yang dinilai positif adalah kembalinya Sri Mulyani Indrawati ke kursi Menteri Keuangan. SMI sendiri merupakan mantan Menkeu di era SBY yang “terpaksa” mundur di tengah skandal Bank Century yang turut menyeret nama-nama besar di kancah politik Indonesia saat itu. Sri meninggalkan posisi senior di Bank Dunia untuk kembali ke Indonesia.

Di samping penunjukan kembali SMI di kursi Menkeu, jajaran kabinet baru menunjukkan bahwa Jokowi telah mengesampingkan permasalahan terkait HAM dan korupsi dan lebih mengedepankan tujuan untuk mengangkat kondisi ekonomi Indonesia lewat berbagai proyek infrastruktur dan peningkatan eksploitasi sumber daya kelautan.

Penunjukan Wiranto menimbulkan tanda tanya di seluruh dunia. Pada tahun 2003 mantan jenderal itu telah dituntut oleh penyelidik PBB terkait kejatahan HAM di masa jelang kemerdekaan Timor Timur pada tahun 1999.

Sementara itu tampaknya saat ini fokus kebijakan anti-korupsi Jokowi lebih kepada “pencegahan” alih-alih penghukuman, yang berimbas kepada lebih nyamannya lobi-lobi politik di Jakarta. Sementara itu penempatan Budi Gunawan di posisi sebagai Kepala BIN juga cukup memuaskan pendukung sang jenderal polisi yang kini memiliki relasi dan peranan terhadap isu-isu sentral di dalam maupun luar negeri.

Warburton mengatakan kondisi tersebut “new developmentalism,” serupa dengan taktik yang digunakan oleh Mantan Presiden Soeharto di era kekuasaannya, meskipun saat ini berada dalam setting demokrasi. Kebijakan perdagangan dan investasi Jokowi juga tampaknya mengarah kepada praktek nasionalisme dan kapitalisme yang lazim pada era Orde Baru. Naiknya rating Jokowi menunjukkan bahwa kebijakan ini dianggap bermanfaat oleh sebagian rakyat pendukungnya.

Meskipun demikian sampai saat ini tampaknya Jokowi masih belum sepenuhnya memiliki kabinet yang bebas konflik. Menteri BUMN Rini Soemarno berusaha mengonsolidasikan 119 BUMN ke dalam kelompok-kelompok yang lebih efisien sesuai dengan sektor industri, sambil tetap memastikan bahwa perusahaan-perusahaan milik negara tersebut memperoleh peranan penting dalam proyek-proyek infrastruktur meskipun sebagian besar BUMN tersebut kekurangan dana dan teknologi. Perusahaan-perusahaan BUMN tersebut masih memiliki kultur yang sangat birokratis dan kebanyakan dipegang oleh orang-orang “poltik” tidak kompeten.

Sekarang upaya Rini tersebut tampaknya dialihkan ke pundah Sri Mulyani. Pasalnya Megawati telah mencegah kehadiran Rini muncul di rapat-rapat kabinet sejak tahun lalu karena ada masalah pribadi di antara keduanya. Kebijakan menganakemaskan BUMN ini juga tampaknya akan akan menghadapi tantangan jika Jokowi melanjutkan keinginannya untuk bergabung dengan Trans Pacific Partnership (TPP). Salah satu peraturan anggota TPP tidak boleh memberikan kemudahan-kemudahan yang tidak adil kepada BUMN.

Pemilihan gubernur DKI tahun 2017 saat ini menjadi agenda politik penting untuk Jokowi. Ia memiliki kepentingan untuk memastikan Ahok, mantan wagubnya semasa menjabat sebagai gubernur DKI, terpilih pada pilkada mendatang. Ahok merupakan kandidat yang paling pas untuk menjabat sebagai gubernur Jakarta karena Jokowi tidak bisa ambil risiko ada orang yang bisa mengalahkan popularitasnya menduduki jabatan tersebut. Pasalnya orang tersebut bisa saja kemudian menjadi rival kuatnya di pemilu tahun 2019 mendatang. Penunjukan Budi Gunawan sebagai kepala BIN dinilai sebagai harga yang harus dibayar Jokowi kepada Mega untuk mengamankan dukungan PDIP kepad Ahok di pilkada DKI.
 
Ahok dan Jokowi

Jika Ahok kalah pada pilkada mendatang dapat dipastikan bahwa posisi Jokowi untuk kembali memenangkan pilpres 2019 akan makin rentan. Untuk saat ini Jokowi dapat bertahan dengan menggunakan taktik politik yang konvensional. Mantan Menkeu Chatib Basri pernah berkata di salah satu konferensi ANU: “Tiap presiden setelah enam bulan menjabat kembali menjadi ‘presiden normal’.” Jokowi patut diacungi jempol karena bisa bertahan lebih lama dari itu.                       

COMMENTS

loading...
Nama

10 tahun pernikahan,1,14 rumah sakit nakal,1,2 tahun jokowi-JK,2,30 September,1,Aceh,3,Administrasi,1,Agung,1,agus yudhoyono,1,aher,1,ahmad musadeq,1,Ahok,17,Ahok Maju Jalur Partai,4,ahok menghina islam,8,ahok tersangka,2,ahok tidak boleh jadi gubernur,1,ahok tidak ditahan,1,ahok tidak mau cuti,1,Air Zam-zam,1,ajaran islam,1,aksi 2 desember,13,aksi 212,20,aksi 312,1,aksi 412,1,aksi bela islam jilid III,5,aksi damai 212,6,aksi damai bela islam III,6,aksi demo 4 november 2016,6,aksi mata-mata,1,Akuntnsi,1,al maidah ayat 51,3,alasan ahok tidak ditahan polisi,1,amerika,1,amnesti pajak,1,Anak,5,Anak dan Media,1,anak dan remaja,2,analytics,1,Anies Baswedan,3,automotif,2,ayah muda,1,bachtiar nasir,1,Banjir,1,Bank,1,bantuan langsung tunai,1,barang bekas,1,batubara,1,Bela diri Berhijab,1,Berita,15,Biografi,1,Biografi Tokoh,12,Bisnis,1,bisnis makanan halal di AS,1,blt,1,boy sadikin,1,BPJS Palsu,1,bullying,2,bullying dalam kisah doraemon,1,bullying pada anak,2,buni yani,1,buni yani pengunggah video ahok,1,buni yani tersangka,1,calon gubernur dki,3,Cara,7,Cara Memilih Hewan Kurban,1,cara menghindari bullying,1,che guevara,1,Cium Tangan Politisi,1,cuti kampanye ahok,1,dahlan iskan,1,Dari,1,Dasar,1,demo 2 Desember 2016,1,demo 4 november,2,demo bela islam dan isu makar,1,demo bela islam II,2,demo bela islam III,1,demo BEM seindonesia,1,demo mahasiswa,1,demo tolak pemimpin kafir,1,demo tolak reklamasi,2,Demokrasi,1,Deradikalisasi,1,Detik,1,Dirgahayu TNI,2,dirjen pajak,1,Diusir,1,Donald Trump,3,dosa-dosa bersosial media,1,dukun,2,dukun penipu,2,Dunia Islam,7,dunia mistis,2,Durian Lokal Unggul,1,Ekonomi,4,ekosistem,1,Eksekusi Mati,1,elly risman,6,Email,1,Epilog,1,Erdogan,2,fashion,1,Fethullah Gulen,1,fidel castro,1,fidel castro dies,1,fidel castro meninggal,1,fidel castro wafat,1,Filsafat,1,fotografi,1,gadget,3,Gadget Nokia,1,gafatar,1,Games Terbaru,1,Garam,1,gas air mata,1,Gaya Hidup,3,gaya jilbab,1,Globalisasi,1,GNPF MUI,1,Go-Jek,1,gubernur jawa barat,1,Gula,1,habib rizieq shihab,2,Habibie,4,Haji,4,Haji 2016,1,Hak Asasi Manusia,2,halal haram,1,hari pahlawan,1,hayono isman,1,Hewan,1,Hijab,1,Hoax,1,hujan saat aksi 212,1,Hukum,3,Hutan Indonesia,1,Ibrah Renungan,86,Ideologi,1,Idul Adha,1,Ikan Paus,1,Ilmu,1,ilmu sihir,1,imunisasi,3,Indonesia,3,Indonesia Raya,1,informasi pendidikan,1,Inspirasi,2,Internet,2,ISIS,1,Istri Bung Tomo Tutup Usia,1,Isu Hangat,229,isu makar,1,isu reshuffle Kabinet 2016,2,jajanan anak,1,jajanan berbahaya,1,jajanan sekolah,1,Jalan Raya,1,Jasmani,1,jembatan roboh,1,jilbab,1,jilbab indonesia,1,Joko Widodo,1,Jokowi,2,Jokowi Rombak Kabinet Jilid II,1,jpo pasar minggu roboh,1,jpo roboh,1,kader partai yang membelot di pilkada dki,1,kafir,1,kajian reklamasi,1,Kandungan Vaksin,1,kapolri Tito Karnavian,1,karakteristik korban bullying,1,kartu jakarta pintar,1,kasus penistaan agama,3,kasus vaksin palsu,2,Kata Mutiara Habibie,1,Keamanan Siber,1,Kebudayaan,1,Kebugaran,1,Keislaman,1,kelompok radikal,1,keluarga,2,kemenkes,1,kenapa ahok tidak boleh jadi gubernur,1,Kepemimpinan,1,kerajinan tangan,1,Kerusuhan SARA di Medan,2,Kesehatan,17,Kesehatan Mata,1,Keutamaan,5,kiamat,1,Kisah,1,Kivlan Zein,1,kjp,1,KKR Natal,1,klenik,1,Kolam Renang Unik,1,Kompetisi Halal Dunia,1,Komputer,1,Komunikasi,1,konflik suriah,1,Konstitusi,1,Koperasi,1,korban terorisme,1,KPK,1,Kucing,1,Kucing Anggora,1,Kudeta Turki,6,Lingkungan,4,lukas enembe,1,mafia jpo,1,mafia reklame,1,mahesa kurung,1,mahkamah konstitusi,1,Makam Fiktif Di Jakarta,1,makanan halal,1,makna 4 November,1,Malapetaka Duryudana,1,Manajemen,1,Manfaat,1,manfaat daun patah tulang,1,Marketing,1,Masjid,1,Mata,1,mata-mata,1,Media Sosial,2,megawati soekarnoputri,1,mengenal penipuan skema ponzi,1,menggunakan analytics untuk memenangkan pemilu,1,menjaga kebersihan,1,Metrotv,1,MK,1,MUI,1,Muslim Rohingya,1,Narkoba,1,Nasional,1,Negara,2,ojk,1,Olahraga,40,operasi tangkap tangan KPK,1,Opini,118,Optimalisasi Tax Amnesty Bagi Wajib Pajak dan UMKM,2,Orang Baik,1,orangtua dan anak,3,Organisasi,1,otomotif,2,pahlawan keluarga,1,Pajak,1,Panasbumi,1,pancasila,1,parenting,9,pasangan suami istri,2,Pebalap Lokal Siap Bersaing,1,pegawai ditjen pajak ditangkap KPK,1,pelecehan al quran,1,peluang usaha,1,Pembantaian Muslim,1,pemerintahan jokowi-JK,2,Pemimpin DKI,1,pendidikan,4,pengasuhan anak,7,Pengelolaan Harta,1,pengembang reklamasi,2,Pengertian,34,Pengertian Budaya,1,Pengertian Deradikalisasi,1,Pengertian Pendidikan,1,Pengertian Petahana,1,pengertian provokasi,1,pengertian proxy war,1,pengetahuan,1,pengusaha dan penguasa,1,penipuan,1,penipuan skema piramida,1,Penjarakan Ahok,3,Penutupan Sekolah,1,penyakit akibat tikus,1,penyakit dari sosial media,1,penyakit dari tikus meningkat di musim hujan,1,Perang Narkoba,1,perdukunan,1,Peristia,1,Peristiwa,43,pernikahan,1,pernyataan kapolri tentang demo bela islam III,1,Persis,1,pilkada DKI,4,Pilkada Jakarta 2017,54,Pilpres Amerika,4,PLTU batubara,1,pokemon,2,Polemik Wukuf Di Karbala,1,Politik,21,politik dalam islam,1,Politik Hukum Keamanan,1,politik islam,1,Politik Luar Negeri,1,Polri,1,ponzi scheme,1,Populasi pengguna Internet,1,ppatk,1,praktek perdukunan,1,Predator Anak,1,presiden AS,1,Presiden Joko Widodo,1,Produk Mengandung Babi,1,program cagub DKI,1,program listrik 35.000 MW,1,program perburuan tikus di DKI Jakarta,1,Provokasi,1,psikologi anak,2,Puisi,37,R.A Kartini,1,radikalisme,1,reklamasi teluk jakarta,3,reklamasi untuk siapa,1,renungan,2,Reshuffle Jilid II,7,Reshuffle Kabinet 2016,4,Revisi PP Telekomunikasi,1,Revisi UU Telekomunikasi,1,revolusi jilbab,1,Ridwan Kamil,3,risalah istiqlal,1,rokok,1,ruhut sitompul,1,Rupa,1,Sains,2,sakit jiwa dan sosial media,1,salafi,1,Sampah Jakarta,1,Sandiaga Uno,1,SARA,1,sayembara tikus,1,Sehat secara Islami,1,Sejarah,8,Sejarah Jakarta,1,selingkuh,1,Seni,2,Serba-serbi,4,sertifikat halal,2,seven deadly sins,1,Shalat Tahajud,1,si buni yani,1,Simbol Haji,1,Sistem,1,skema ponzi,1,Soekarno,1,sosial media,1,Sosiologi,1,sosmed,3,Sosok,7,Sri Mulyani,2,stop bullying,2,Suara Mahasiswa Indonesia,1,sugesti,1,sumber energi,1,surat Sri Mulyani,1,Sutan Bhatoegana tutup usia,1,tabligh akbar istiqlal,1,Tanggal Libur 2017,1,Tanjung Balai Medan,2,Tata Cara Berkurban,1,tax amnesty,7,teknologi,8,Telekomunikasi,2,Telkomsel,1,tentang islam,1,terhangat,1,teror perancis 2016,1,Teroris,2,terorisme,2,timnas Indonesia,1,tindakan subversif WN Cina,1,Tips,1,TNI,1,Tokoh,2,tokoh aksi demo 4 november,1,Tokoh Pers Nasional,1,tokoh-tokoh penistaan agama,2,tolak pemimpin kafir,1,tolak reklamasi,2,Turki,1,uji materi UU Pilkada,1,UNAS,1,Universitas Indonesia,1,unjuk rasa mahasiswa,1,UU sertifikasi produk halal,1,vaksin asli,1,vaksin palsu,5,video,22,wahabisme,1,Wakil Rakyat Main Judi,1,Warga Cina tanam benih cabe berbakteri,1,Wiranto,1,Wirausaha,1,wisata,1,Workshop Panasbumi,1,Workshop UI,1,yenny wahid,1,Yusuf Mansur,1,
ltr
item
Ngelmu.com: Anniversary Kedua Jokowi, Sudah Waktunya Kita Berhenti Terpesona
Anniversary Kedua Jokowi, Sudah Waktunya Kita Berhenti Terpesona
http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/jokowi-_160121121222-524.jpg
Ngelmu.com
http://www.ngelmu.com/2016/10/anniversary-kedua-jokowi-sudah-waktunya.html
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/2016/10/anniversary-kedua-jokowi-sudah-waktunya.html
true
2232086029491933273
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy