"Harimaumu" Membentuk Dunia Anakmu

SHARE:

"Mulutmu harimaumu," kata-kata yang dilontarkan kepada seorang anak akan membentuk dunia anak (Foto: thesuccesfulparent)


Oleh Elly Risman*


Ngelmu - "Mulutmu harimaumu," kata-kata yang dilontarkan kepada seorang anak akan membentuk dunia anak. Apakah dunia mereka akan penuh kasih dan sayang, kokoh, dan bahagia atau hampa, dan berongga tergantung pola asuh yang didapatkan.

“Andreeee…Tobat deh, tuh lihat deh naliin sepatu aja dari tadi enggak bisa…Benar-benar deh...lama banget!", teriak bu Anton pada anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun yang masih berkutat menalikan sepatunya.

Kehilangan kesabarannya, bu Anton menghampiri anaknya dan mengatakan, ”Ngiket tali sepatu aja enggak bisa bisa, Dri, bagaimana coba nanti masa depanmu?”

Andri memiringkan kepalanya dan menatap ibunya dengan  pandangan heran tanpa kata-kata lalu meneruskan mengikat tali sepatunya. Mungkin dalam hatinya ia berkata, ”Ya Allah mama...ini kan urusan ngikat sepatu doang...Masa depan masih jauh banget!”.

Tidak sengaja mungkin, tapi banyak sekali kalimat-kalimat negatif terlontar dari mulut orangtua ketika menghadapi kenakalan, kelambatan, atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan harapan, baik bernada meremehkan, merendahkan, atau menjatuhkan terhadap anaknya. Padahal, banyak orang percaya bahwa kata-kata orangtua bak sebuah doa.

Saya teringat pengalaman saya berpuluh tahun yang lalu ketika saya dan teman-teman pelatih dari Yayasan Kita dan Buah Hati menyelenggarakan pelatihan bagaimana berbicara dengan anak  di daerah kumuh belakang Mall Mangga Dua, Jakarta Pusat. Mula-mula pelatihan ini hanya diminati beberapa orang. Di hari kedua, ruangan kecil sebelah rumah pak RT itu tak sanggup menampung ibu-ibu yang berminat untuk ikut serta.

Selama pelatihan itu, banyak sekali ibu yang menyesal bahkan menangis dan bertanya bagaimana caranya agar mereka dan anak mereka bisa berubah. Pasalnya, selama ini  karena hidup mereka susah penuh tekanan, para ibu ini sering kehilangan kesabarannya dalam menghadapi anak-anak mereka. Mereka bukan saja berkata kasar, mencubit, memukul, juga mengatai-ngatai anak mereka menggunakan kata-kata yang mereka sebut “kebun binatang”. Seorang ibu mengadu sambil berurai air mata pada saya, “Emang benar bu, makin lama kelakuan anak saya makin bandel dan keras banget aja bu!. Bagaimana bu, bantuin saya."

Foto: kidsworld
Tak luput pula dari kenangan saya bagaimana ibu saya mengingat seorang ibu yang masih keluarga jauh kami agar menjaga dirinya supaya “mulutnya tidak terlalu tajam” pada anak lelakinya yang sudah remaja. “Nanti," kata ibu saya, “Kalau hidup anakmu seperti kata-katamu, kau juga yang akan menderita”. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kami semua menyaksikan bagaimana ibu itu menderita karena susahnya penghidupan anaknya. Dia datang menemui ibu saya, menangisi nasib anaknya. Ibu saya menganjurkannya untuk minta ampun pada Allah.

Parenting is all about wiring, bagaimana ujung-ujung sinaps kita terkoneksi oleh pengalaman pengalaman hidup kita, termasuk kata-kata dan sikap serta perilaku yang kita terima. Tak ubah seperti lampu-lampu yang banyak dalam sebuah ruangan. Di belakang lampu lampu itu pasti banyak kabel yang menghubungkan satu lampu dengan lampu lainnya. Ada warna biru, hijau, kuning, merah, putih, dan dibalut selotip. Tekan satu tombol, semua lampu menyala.

Begitulah, kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk sengaja atau tidak selama pengasuhan, baik dari orangtua dan orang sekitar, akan keluar otomatis ketika seseorang itu menjadi orangtua pula nantinya, lepas dari tinggi rendahnya jenjang pendidikan dan kelas sosial. Sebagai contoh adalah pengalaman yang sama yang saya peroleh dalam ruang praktek saya.

Seorang gadis remaja yang cantik dan lembut kelihatan sangat bingung, nyaris depresi, duduk mematung di depan saya. Dari pembicaraan yang panjang, ternyata dia tidak sanggup menggapai target yang diharapkan ibunya yang baginya terlalu tinggi. Dia lelah melompat dan melompat meraihnya ternyata tak pernah sampai, sehingga jiwanya terengah-engah. Harapan ibu itu disampaikan dalam kalimat yang bagus dan nada rendah, tapi menekan dan nyelekitnya bukan main. Semua upaya anak ini tak pernah berharga. Bak kata orang, “When the best is not enough”. Padahal, kedua orangtuanya pasca sarjana lulusan negara adidaya. Bahkan, ketika suatu saat ibunya sangat kesal, ia sempat mengatakan pada anaknya, ”Lihat tuh kamar anak gadis enggak ada bedanya sama kandang ba**!”. Entah bagaimanalah dulu nenek anak ini mengasuh ibunya.

Tidakkah dalam keseharian kita menemukan hal serupa terjadi di sekeliling kita? Dan kini, anak itu seperti ibu di atas telah menjadi orangtua atau pejabat publik, pimpinan dunia usaha atau lembaga. Tidakkah sesekali atau seringkali pengalaman lamanya otomatis mencuat dalam kesehariannya? Kata-kata kasar bahkan keji dan sikap-sikap yang kurang terpuji? Atau kita menemukan dan mengalami ada di lingkungan keluarga atau masyarakat seseorang yang sangat baik dan rendah hati, santun dan dermawan, atau bersikap terpuji bak negarawan? Paling tidak kita mengetahui bagaimana "wiring" mereka.

Kalau Anda bawahan orang yang kasar dan Anda mau jadi mulia, maka maafkan sajalah. Yang sehat yang ngalah. Mau tak mau kita benarkan jualah pepatah lama, "Buah Jatuh tak jauh dari pohonnya!". Bagi kita yang penting adalah mewaspadai diri sendiri dalam berkata-kata karena kita tentu tak mau menderita di hari tua, ketika menyaksikan anak kita suatu hari nanti memarahi anaknya, cucu kita!

Foto: huffingtonpost

Makna kata-kata bagi anak

Bila kata-kata yang keluar dari ayah ibu, kakek nenek, paman bibi, guru, dan orang penting lain sekitar anak penuh kasih dan sayang, penerimaan, penghargaan, dan pujian, maka jiwa anak menjadi sangat padat, kokoh, dan bahagia. Keadaan ini yang membuat mereka merasa berharga dan percaya diri. Tapi bila sebaliknya, konsep diri tidak terbentuk dengan baik, hampa, dan berongga. Dari mana anak bisa  merasa berharga hatta di depan orangtuanya sendiri? Apalagi percaya diri.

Anak-anak seperti ini akan tumbuh jadi pribadi yang sulit diajak kerjasama, melawan, dan menyimpan berjuta emosi negatif dari sedih yang dalam, kecewa, bingung, takut, ingin menjauh dari orangtua, benci, bahkan sampai dendam. Bagaimanalah hubungan anak dan orangtua tersebut? Jarak antara keduanya tak bisa dihitung dengan kilometer. Apa yang ditanam itulah yang dipetik di hari tua. Hanya anak dan orangtua yang paham bagaimana sesungguhnya makna dari hubungan mereka. Karena umumnya hal ini susah diungkapkan dengan kata-kata, hanya hati yang merasa.

Perbaiki kata dalam bicara dan lempar anakmu ke masa depan secara emosional. Otak kita, seperti juga tubuh, berkembang dan berfungsi secara bertahap, pakai proses. Tentu saja perlu waktu, tapi banyak orangtua lupa akan hal ini dan ingin semuanya berlangsung cepat. Jadi, sering kali mereka bicara dengan anaknya seolah anak itu sudah besar dan mengerti apa yang dia katakan dan harapkan.

Saya tak hentinya bersyukur dianugerahi Allah orangtua yang bijak dan menjalankan aturan agama. Berkata dengan baik baik, memanggil dengan panggillan yang baik, penuh kasih, dan perhatian. Waktu kecil, saya sangat kurus, kulit sawo matang agak gelap dan asmatis pula, bayangkanlah! Apa yang diajarkan ayah dan ibu saya selalu bertahap dan dengan ajakan dan harapan tentang masa depan yang saya jangankan bisa  membayangkannya, mengerti saja tidak.

Suatu hari ibu saya berkata pada saya, ”Mau nggak Elly, mama ajarkan bagimana caranya masak dengan cepat?”. Lalu ibu saya bercerita tentang mengapa itu perlu, memberikan contoh di keluarga kami ada ibu-ibu yang sudah punya anak tapi tak mampu melakukan tugas dapur dan tata laksana rumah tangganya dengan baik.  Lalu ibu saya melemparkan saya secara emosional ke depan dengan berkata seperti ini, ”Nanti, insha Allah Elly akan punya suami yang hebat, pejabat pula. Sebagai perempuan, kita ini nak harus bisa 'diajak  ke tengah' (masuk dalam pergaulan menengah), tapi rumah dan dapur harus selesai!”. Saya  tidak bisa membayangkannya.

Puluhan tahun kemudian, seperti orang lain juga, kami  merangkak dari bawah dan sampai pada suatu titik, dimana sebagai staf dari pejabat tinggi negara, kami kebagian tugas untuk menerima tamu yang juga merupakan pejabat tinggi atau utusan negara lain pada saat “open house” lebaran di rumah beliau. Saya datang dan mencium lutut ibu saya, berterima kasih  atas kata-kata beliau dulu dan doanya. Saya tidak bisa datang di hari pertama lebaran karena saya mendampingi suami saya  bertugas. Seperti yang dulu beliau sering ucapkan kepada saya, benar adanya. Suami saya “membawa saya ke tengah”. Ibu saya membelai belai kepala saya dan menciumnya.

Mungkin bagi orang lain ini hal sederhana dan biasa saja, tidak begitu buat seorang Elly yang dulu kurus, hitam, dan asmatis pula. Lagi pula, kami berasal dari sebuah kampung di ujung Sumatra, yang namanya tak akan Anda temukan di peta. Apa yang saya alami buat saya dan keluarga saya sesuatu yang luar biasa, tak terbayangan sebelumnya.

Foto: thefederalist
Di daerah kami itu, ada kebiasaan orangtua bila marah menyebut anaknya, “Bertuah!” yang artinya “Sakti, keramat, beruntung, atau selamat!”. Jadi, kalau anaknya nakal sekali ayah atau ibunya akan berkata atau berteriak, “Ya Allah ini anaaaak, benar-benar ‘bertuah’ engkau!”.

Seandainyalah kalau kita lagi marah sama anak kita, kita bisa mengucapkan kata yang serupa...Belakangan saya membaca riwayat Imam Abdurrahman Sudais yang mungkin juga Anda sudah tahu. Bagaimana ketika beliau kecil, juga suka iseng atau mungkin nakal. Ibu beliau tengah menyiapkan jamuan makan dan sudah mengatur dengan rapi makanan yang akan disantap. Tak disangka Sudais kecil mengambil pasir dan menaburkannya di atas makanan tersebut. Tapi, mulianya sang ibu yang sangat kecewa itu, beliau “menyumpahi” anaknya dengan kata, ”Ya Allah, semoga anakku ini menjadi imam Haramain.” (Kedua masjid Al Haram dan Nabawi)

Di negeri kita ini banyak kisah serupa. Saya menamatkan membaca buku "Athirah" yang mengisahkan riwayat hidup ibunya bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang sekarang filmya sedang tayang di bioskop. Alkisah, ibu Athirah ini sedang berkendara dengan pak JK dan mereka melewati rumah Gubernur Sulawesi Selatan. Ibu Athirah berkata (kurang lebih) pada anak lelakinya yang sangat setia ini, ”Saya sebenarnya mengharapkan engkau tinggal di rumah itu”. Kenyataannya, pak Kalla dapat jabatan yang lebih tinggi dari gubernur.

Walaupun sebagai orangtua, kita telah berusaha melakukan yang sebaik yang kita bisa untuk anak-anak kita, tapi kita tetap manusia yang bersifat silap, salah, tidak tahu, atau lupa. Sayapun juga begitu, tak luput dari semua itu. Saya melakukan banyak kesalahan sebagai seorang ibu. Lalu begitu sadar, saya sujud, mohon keampunan Allah.

Marilah kita lihat masa lalu kita lewat kaca spion saja agar tidak lupa, tapi yuk kita fokus ke masa depan. Kita minta ampun pada Allah untuk semua keliru dan salah yang kita lakukan sengaja atau tidak sengaja. Kini dan ke depan mari berikan anak kita pondasi yang kokoh untuk mampu tegar di tengah persaingan yang semakin seram saja.

Percayalah, semua anak akan Allah beri masa depan dan itu bak dinding yang hampa. Biarkanlah anak itu melukisnya sendiri. Marilah kita terus menerus belajar mengendalikan kata-kata karena "Your words shape your children’s world".


* Elly Risman adalah psikolog spesialis pengasuhan anak dan menjabat Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati. Elly dikenal sebagai tokoh yang gigih dalam menyuarakan perlunya orangtua mengasuh dan mendidik anaknya secara sungguh-sungguh.

COMMENTS

Nama

10 tahun pernikahan,1,14 rumah sakit nakal,1,2 tahun jokowi-JK,2,30 September,1,Administrasi,1,Agung,1,agus yudhoyono,1,aher,1,ahmad musadeq,1,Ahok,17,Ahok Maju Jalur Partai,4,ahok menghina islam,8,ahok tersangka,1,ahok tidak boleh jadi gubernur,1,ahok tidak ditahan,1,ahok tidak mau cuti,1,Air Zam-zam,1,ajaran islam,1,aksi 2 desember,13,aksi 212,19,aksi 312,1,aksi bela islam jilid III,5,aksi damai 212,6,aksi damai bela islam III,6,aksi demo 4 november 2016,6,Akuntnsi,1,al maidah ayat 51,3,alasan ahok tidak ditahan polisi,1,amerika,1,amnesti pajak,1,Anak,5,Anak dan Media,1,anak dan remaja,2,analytics,1,Anies Baswedan,3,automotif,2,ayah muda,1,bachtiar nasir,1,Banjir,1,Bank,1,bantuan langsung tunai,1,barang bekas,1,batubara,1,Bela diri Berhijab,1,Berita,15,Biografi,1,Biografi Tokoh,12,Bisnis,1,bisnis makanan halal di AS,1,blt,1,boy sadikin,1,BPJS Palsu,1,bullying,2,bullying dalam kisah doraemon,1,bullying pada anak,2,buni yani,1,buni yani pengunggah video ahok,1,buni yani tersangka,1,calon gubernur dki,3,Cara,7,Cara Memilih Hewan Kurban,1,cara menghindari bullying,1,che guevara,1,Cium Tangan Politisi,1,cuti kampanye ahok,1,dahlan iskan,1,Dari,1,Dasar,1,demo 2 Desember 2016,1,demo 4 november,2,demo bela islam dan isu makar,1,demo bela islam II,2,demo bela islam III,1,demo BEM seindonesia,1,demo mahasiswa,1,demo tolak pemimpin kafir,1,demo tolak reklamasi,2,Demokrasi,1,Deradikalisasi,1,Detik,1,Dirgahayu TNI,2,dirjen pajak,1,Diusir,1,Donald Trump,3,dosa-dosa bersosial media,1,dukun,2,dukun penipu,2,Dunia Islam,6,dunia mistis,2,Durian Lokal Unggul,1,Ekonomi,4,ekosistem,1,Eksekusi Mati,1,elly risman,6,Email,1,Epilog,1,Erdogan,2,fashion,1,Fethullah Gulen,1,fidel castro,1,fidel castro dies,1,fidel castro meninggal,1,fidel castro wafat,1,Filsafat,1,fotografi,1,gadget,3,Gadget Nokia,1,gafatar,1,Games Terbaru,1,Garam,1,gas air mata,1,Gaya Hidup,3,gaya jilbab,1,Globalisasi,1,GNPF MUI,1,Go-Jek,1,gubernur jawa barat,1,Gula,1,habib rizieq shihab,1,Habibie,4,Haji,4,Haji 2016,1,Hak Asasi Manusia,2,halal haram,1,hari pahlawan,1,hayono isman,1,Hewan,1,Hijab,1,Hoax,1,Hukum,3,Hutan Indonesia,1,Ibrah Renungan,76,Ideologi,1,Idul Adha,1,Ikan Paus,1,Ilmu,1,ilmu sihir,1,imunisasi,3,Indonesia,3,Indonesia Raya,1,informasi pendidikan,1,Inspirasi,2,Internet,2,ISIS,1,Istri Bung Tomo Tutup Usia,1,Isu Hangat,204,isu makar,1,isu reshuffle Kabinet 2016,2,jajanan anak,1,jajanan berbahaya,1,jajanan sekolah,1,Jalan Raya,1,Jasmani,1,jembatan roboh,1,jilbab,1,jilbab indonesia,1,Joko Widodo,1,Jokowi,2,Jokowi Rombak Kabinet Jilid II,1,jpo pasar minggu roboh,1,jpo roboh,1,kader partai yang membelot di pilkada dki,1,kafir,1,kajian reklamasi,1,Kandungan Vaksin,1,kapolri Tito Karnavian,1,karakteristik korban bullying,1,kartu jakarta pintar,1,kasus penistaan agama,3,kasus vaksin palsu,2,Kata Mutiara Habibie,1,Keamanan Siber,1,Kebugaran,1,Keislaman,1,kelompok radikal,1,keluarga,2,kemenkes,1,kenapa ahok tidak boleh jadi gubernur,1,Kepemimpinan,1,kerajinan tangan,1,Kerusuhan SARA di Medan,2,Kesehatan,17,Kesehatan Mata,1,Keutamaan,5,kiamat,1,Kisah,1,kjp,1,klenik,1,Kolam Renang Unik,1,Komputer,1,Komunikasi,1,konflik suriah,1,Konstitusi,1,Koperasi,1,korban terorisme,1,KPK,1,Kucing,1,Kucing Anggora,1,Kudeta Turki,6,Lingkungan,4,lukas enembe,1,mafia jpo,1,mafia reklame,1,mahesa kurung,1,mahkamah konstitusi,1,Makam Fiktif Di Jakarta,1,makanan halal,1,makna 4 November,1,Malapetaka Duryudana,1,Manajemen,1,Manfaat,1,manfaat daun patah tulang,1,Marketing,1,Masjid,1,Mata,1,Media Sosial,2,megawati soekarnoputri,1,mengenal penipuan skema ponzi,1,menggunakan analytics untuk memenangkan pemilu,1,menjaga kebersihan,1,Metrotv,1,MK,1,MUI,1,Muslim Rohingya,1,Narkoba,1,Nasional,1,Negara,2,ojk,1,Olahraga,40,operasi tangkap tangan KPK,1,Opini,114,Optimalisasi Tax Amnesty Bagi Wajib Pajak dan UMKM,2,Orang Baik,1,orangtua dan anak,3,Organisasi,1,otomotif,2,pahlawan keluarga,1,Pajak,1,Panasbumi,1,pancasila,1,parenting,9,pasangan suami istri,2,Pebalap Lokal Siap Bersaing,1,pegawai ditjen pajak ditangkap KPK,1,pelecehan al quran,1,peluang usaha,1,Pembantaian Muslim,1,pemerintahan jokowi-JK,2,Pemimpin DKI,1,pendidikan,4,pengasuhan anak,7,Pengelolaan Harta,1,pengembang reklamasi,2,Pengertian,33,Pengertian Budaya,1,Pengertian Deradikalisasi,1,Pengertian Pendidikan,1,Pengertian Petahana,1,pengertian provokasi,1,pengertian proxy war,1,pengetahuan,1,pengusaha dan penguasa,1,penipuan,1,penipuan skema piramida,1,Penjarakan Ahok,3,Penutupan Sekolah,1,penyakit akibat tikus,1,penyakit dari sosial media,1,penyakit dari tikus meningkat di musim hujan,1,Perang Narkoba,1,perdukunan,1,Peristia,1,Peristiwa,34,pernikahan,1,pernyataan kapolri tentang demo bela islam III,1,Persis,1,pilkada DKI,4,Pilkada Jakarta 2017,51,Pilpres Amerika,4,PLTU batubara,1,pokemon,2,Polemik Wukuf Di Karbala,1,Politik,20,politik dalam islam,1,Politik Hukum Keamanan,1,politik islam,1,Politik Luar Negeri,1,Polri,1,ponzi scheme,1,Populasi pengguna Internet,1,ppatk,1,praktek perdukunan,1,Predator Anak,1,presiden AS,1,Presiden Joko Widodo,1,Produk Mengandung Babi,1,program cagub DKI,1,program listrik 35.000 MW,1,program perburuan tikus di DKI Jakarta,1,Provokasi,1,psikologi anak,2,Puisi,33,R.A Kartini,1,radikalisme,1,reklamasi teluk jakarta,3,reklamasi untuk siapa,1,renungan,2,Reshuffle Jilid II,7,Reshuffle Kabinet 2016,4,Revisi PP Telekomunikasi,1,Revisi UU Telekomunikasi,1,revolusi jilbab,1,Ridwan Kamil,3,risalah istiqlal,1,rokok,1,ruhut sitompul,1,Rupa,1,Sains,2,sakit jiwa dan sosial media,1,salafi,1,Sampah Jakarta,1,Sandiaga Uno,1,SARA,1,sayembara tikus,1,Sehat secara Islami,1,Sejarah,8,Sejarah Jakarta,1,selingkuh,1,Seni,2,Serba-serbi,4,sertifikat halal,2,seven deadly sins,1,Shalat Tahajud,1,si buni yani,1,Simbol Haji,1,Sistem,1,skema ponzi,1,Soekarno,1,sosial media,1,Sosiologi,1,sosmed,3,Sosok,3,Sri Mulyani,2,stop bullying,2,Suara Mahasiswa Indonesia,1,sugesti,1,sumber energi,1,surat Sri Mulyani,1,Sutan Bhatoegana tutup usia,1,tabligh akbar istiqlal,1,Tanggal Libur 2017,1,Tanjung Balai Medan,2,Tata Cara Berkurban,1,tax amnesty,7,teknologi,8,Telekomunikasi,2,Telkomsel,1,tentang islam,1,terhangat,1,teror perancis 2016,1,Teroris,2,terorisme,2,TNI,1,Tokoh,2,tokoh aksi demo 4 november,1,Tokoh Pers Nasional,1,tokoh-tokoh penistaan agama,2,tolak pemimpin kafir,1,tolak reklamasi,2,Turki,1,uji materi UU Pilkada,1,UNAS,1,Universitas Indonesia,1,unjuk rasa mahasiswa,1,UU sertifikasi produk halal,1,vaksin asli,1,vaksin palsu,5,video,17,wahabisme,1,Wakil Rakyat Main Judi,1,Wiranto,1,Wirausaha,1,wisata,1,Workshop Panasbumi,1,Workshop UI,1,yenny wahid,1,
ltr
item
Ngelmu.com: "Harimaumu" Membentuk Dunia Anakmu
"Harimaumu" Membentuk Dunia Anakmu
https://4.bp.blogspot.com/-K-X57BMnENc/WBAC2beFT6I/AAAAAAAAAJI/nfVUVkvmSGoqtSRLFTPvqRGr57Wp1WGOQCEw/s640/parenting%2Bmuslim_thesuccesful%2Bparent.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-K-X57BMnENc/WBAC2beFT6I/AAAAAAAAAJI/nfVUVkvmSGoqtSRLFTPvqRGr57Wp1WGOQCEw/s72-c/parenting%2Bmuslim_thesuccesful%2Bparent.jpg
Ngelmu.com
http://www.ngelmu.com/2016/10/harimaumu-membentuk-dunia-anakmu.html
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/2016/10/harimaumu-membentuk-dunia-anakmu.html
true
2232086029491933273
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy