Yes We Scan: Perjuangan Edward Snowden dan Senjakala Kehidupan Privat


Oleh Jalal (geotimes.co.id)

The Conversation (1974), Nineteen Eighty-Four (1984), Brazil (1985),  Enemy of the State(1998), Minority Report (2002), A Scanner Darkly (2006), The Lives of Others (2006),Eagle Eye (2008). Itulah daftar film dengan tema Orwellian surveillance yang pernah saya tonton.
Saya ingat semua detail film-film itu. Saya ingat dengan tegas perasaan saya saat menonton masing-masing. Beberapa jam lalu, saya mengecek kembali kapan film-film itu dibuat.
Mengapa? Karena saya tertarik untuk menuliskan perasaan yang campur aduk—yang belum pernah saya rasakan ketika menonton film-film bertemakan serupa di atas—setelah menonton Snowden, film terbaru besutan Oliver Stone.
Sutradara ini tak pernah mengecewakan saya, walau mutu film-filmnya belakangan mungkin tak sekuat periode-periode yang lebih awal. Film terakhir ini dibintangi Joseph Gordon-Levitt, sebagai Edward Snowden tentu saja, bintang yang juga tak pernah mengecewakan saya.
Sederet bintang lainnya mendukung JGL, termasuk Shailene Woodley, Melissa Leo, Zachary Quinto, Tom Wilkinson, Nicolas Cage, dan Scott Eastwood. Saya tak bisa bilang bahwa sebagai ensemble, mereka sama kuatnya dengan para bintang di Spotlight, yang mendapatkan hadiah Oscar tertinggi tahun lalu. Tapi, lagi-lagi, mereka juga tidak mengecewakan. Sangat kompeten. Pendeknya, sebagai sebuah karya seni (dan politik), ini adalah karya yang baik.
Saya sendiri punya banyak kesenangan dari melihat lokasi-lokasi yang beragam di film itu. Edward Snowden berasal dari Maryland, negara bagian AS, yang baru saja saya kunjungi selama dua pekan lebih pada Juli lalu. Dia bekerja pertama kali di Washington DC, yang tahun ini sudah saya sambangi dua kali.
Snowden sempat bertugas di Jepang, negeri permai yang tahun ini juga saya sudah kunjungi dua kali. Lalu, dia bersembunyi di Hong Kong, yang hampir sepanjang pekan lalu jadi tempat saya mampir. Di Hong Kong, Snowden bersembunyi di Hotel The Mira yang berlokasi di daerah Kowloon, persis di seberang taman dan Masjid Kowloon yang jadi tempat saya salat selama tinggal dekat situ, sebelum saya pindah ke Causeway Bay.
Tapi perasaan saya yang utama bukan karena itu. Saya merasa gentar melihat bagaimana sesungguhnya aktivitas kita benar-benar bisa diawasi. Sebuah program komputer yang diciptakan untuk National Security Agency (NSA) ternyata bisa mengaktifkan kamera komputer dan ponsel di mana pun.
Ketika Snowden meminta kepada kawannya yang menjadi konsultan IT di lembaga itu untuk melacak keluarga Marwan, seorang bankir Timur Tengah, mereka membuka kamera komputer salah satu saudaranya. Perempuan berjilbab itu kemudian terlihat membuka jilbabnya, hingga memelorotkan celananya di hadapan mereka berdua. “Saya selalu ingin tahu seperti apa di balik pakaian itu,” tutur sang kawan.
Membuka kamera komputer dan ponsel di mana pun sudah mengerikan. Namun tentu belum seberapa dengan kenyataan bahwa mereka membaca semua email, gambar dan teks apa pun yang dipertukarkan di dunia maya, maupun yang teronggok di harddisk kita.
Saya tentu saja membaca di tahun 2013 ketika pertama kali portal berita The Guardianmembuka skandal penyadapan terhadap Yahoo, Gmail, Facebook, Apple, dan lima raksasa IT lain yang punya miliaran akun pengguna. Lewat situlah penilikan terhadap isi komputer kita terjadi. Tapi, saya kali ini benar-benar takut.
Membaca tentang itu, dan menyaksikan rekonstruksi peristiwanya adalah dua hal yang berbeda. Apalagi rekonstruksi itu dilakukan oleh seorang Stone. Ketegangan yang dibangun di kamar hotel sungguh luar biasa. Snowden memang berperilaku seperti orang yang paranoid—menurut Andrew Grove, only the paranoid survive, dan dalam kasus Snowden memang demikian—karena dia mengetahui semua kapabilitas teknologi yang dikuasai NSA dan CIA, dua organisasi yang dibantunya hingga beberapa hari sebelum dia menghilang lalu mengurung diri di kamar hotel itu.
Apa dan bagaimana Snowden mengetahuinya? Ini digambarkan lewat teknik flashback yang ciamik. Saya tak mau mengungkapkan terlampau banyak dan dalam di catatan ini, untuk menghormati pembaca yang belum menontonnya dan mungkin terganggu dengan spoiler. Yang bisa saya bilang, setiap tugas yang diberikan kepadanya membuat mata fisik dan mata batinnya semakin terbuka bahwa Pemerintah AS itu memang memata-matai seluruh warganya dengan cara yang ilegal.
Snowden yang tadinya secara politik jelas-jelas konservatif mendapati dirinya telah tertarik pada seorang fotografer amatir yang liberal. Lelaki brilian namun pemalu itu terus ditentang pemikirannya oleh Lindsay Mills, sang pacar. Ketika apa yang dia saksikan di pekerjaannya mengonfirmasi kekhawatiran dan keberatan Mills, hatinya tak tahan lagi.
Kalau tadinya jiwa patriotiknya membuat dia ingin masuk CIA untuk membela negaranya dengan membantu pemerintahnya, jiwa patriotik itu juga membuatnya mengungkapkan pelanggaran yang dilakukan pemerintahnya.
Secara legal, yang bisa disadap adalah orang yang dicurigai menjadi mata-mata asing, lewat apa yang disebut foreign intelligence surveillance act (FISA). Dan FISA sendiri hanya bisa diperoleh lewat sebuah foreign intelligence surveillence court dengan hakim-hakim yang ditentukan Pemerintah AS. Tapi prosedur itu benar-benar tak diikuti.
Kapan pun NSA ingin mengakses apa pun dari siapa pun, mereka mengaktifkan XKeyscore, seperti Google, namun benar-benar bikin bulu kuduk merinding karena program itu tidak hanya mencari apa yang sudah diunggah ke wilayah publik, melainkan masuk ke mana pun yang privat. Termasuk lewat cara yang telah saya tuliskan: menyalakan kamera komputer dan ponsel.
Namun yang membuat Snowden benar-benar meradang adalah ketika ia ditugaskan di Hawaii. Di situ ia mengetahui bahwa sebuah proyek sampingan yang ia buat untuk melacak keberadaan ponsel, dengan manfaat yang tadinya ia bayangkan untuk membantu pencarian orang dalam situasi bencana, ternyata dikembangkan dan digunakan untuk mengetahui dan mengejar orang yang diduga sebagai teroris.
Lalu, lewat pemantauan satelit atau drone, dengan atau tanpa dukungan intel di darat sang terduga teroris dihabisi dengan peluru kendali. Ketika dia bertanya apakah memang pasti sang teroris yang membawa ponselnya, jawabannya betul-betul mengerikan, karena memang tak ada jaminan itu tanpa pengecekan intel. Menghabisi nyawa orang benar-benar seperti game di komputer.
Sebuah film lain, walaupun bukan tema utamanya bukan Orwellian surveillance, Patriot Games (1992) mungkin adalah yang pertama kali membuat saya berpikir tentang “kenyamanan” menghabisi lawan dengan bantuan teknologi. Di situ para teroris—atau pejuang, tergantung siapa yang menilainya—IRA dihabisi dengan bom. Bedanya, saya tahu bahwa itu fiksi, plus digambarkan dengan perdebatan yang sangat keras sebelum eksekusi dilakukan.
Begitu juga dalam film Eye in the Sky (2015), di mana pertimbangan dilakukan dengan seksama dan keputusan dibuat dengan melibatkan semua pihak yang bertanggung jawab yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Tapi di Snowden, semuanya dilakukan secara kasual. Yang mengintai dan yang mengebom hanya beberapa orang yang duduk berseberangan. “We hack them, they whack them,”begitu penjelasan atasan Snowden, Trevor James, ketika ditanya apa yang sedang dilakukannya, sambil menunjuk ke arah rekan-rekan yang bertugas membunuh dengan rudal. Tak ada proses deliberatif yang serius, pun tak ada keraguan bahwa korbannya mungkin saja tidak tepat.
Realitas kehidupan rupanya jauh lebih kejam daripada fiksi. Rupanya itu yang menjelaskan mengapa serangan-serangan rudal Amerika Serikat, yang belakangan juga dikendalikan dengan drone, banyak menelan korban tak berdosa. Kemampuan untuk menjadi omnipresen rupanya menggoda manusia-manusia yang semakin merasa berkuasa dan tak lagi berpikir lurus soal hak hidup, soal hak privat, dan seterusnya.
Dalam sebuah adegan demonstrasi di pengujung film, saya menyaksikan sekilas sebuah spanduk yang kemudian menjadi sangat populer. Yes We Scan, begitu yang tertulis, mengejek tema kampanye Presiden Obama. Masyarakat Amerika Serikat mendesak Obama untuk mengakui tindakan intelijen yang kelewat batas itu. Namun, seperti yang akan selalu tercatat dalam sejarah, alih-alih menghentikan program penilikan itu, ia malah meneruskan legasi busuk George W. Bush. Kemarahan masyarakat AS tetap membuatnya bergeming.
Seharusnya yang marah dan menuntut perubahan bukan saja warga AS, karena NSA sesungguhnya memata-matai semua orang di seluruh dunia. Untuk kepentingan siapa? “CIA, dan sesekali Mossad,” begitu penjelasan dalam sebuah adegan.
Saya sungguh berterima kasih kepada Edward Snowden yang telah dengan gagah berani mengungkapkan ini semua. The Guardian juga perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi, pun demikian dengan seluruh pihak yang terlibat dalam membuat Snowden. Oliver Stone, lewat kejutan keren di akhir film, perlu mendapatkan apresiasi khusus untuk itu.
Pertanyaan yang masih menggelayut di benak saya hingga sekarang: adakah yang kita bisa perbuat agar perjuangan Snowden benar-benar bisa mengubah dunia? Atau kita akan menyerah begitu saja sambil meratapi tibanya senjakala kehidupan privat?


COMMENTS

loading...
Nama

10 tahun pernikahan,1,14 rumah sakit nakal,1,2 tahun jokowi-JK,2,30 September,1,Aceh,3,Administrasi,1,Agung,1,agus yudhoyono,1,aher,1,ahmad musadeq,1,Ahok,17,Ahok Maju Jalur Partai,4,ahok menghina islam,8,ahok tersangka,1,ahok tidak boleh jadi gubernur,1,ahok tidak ditahan,1,ahok tidak mau cuti,1,Air Zam-zam,1,ajaran islam,1,aksi 2 desember,13,aksi 212,20,aksi 312,1,aksi 412,1,aksi bela islam jilid III,5,aksi damai 212,6,aksi damai bela islam III,6,aksi demo 4 november 2016,6,Akuntnsi,1,al maidah ayat 51,3,alasan ahok tidak ditahan polisi,1,amerika,1,amnesti pajak,1,Anak,5,Anak dan Media,1,anak dan remaja,2,analytics,1,Anies Baswedan,3,automotif,2,ayah muda,1,bachtiar nasir,1,Banjir,1,Bank,1,bantuan langsung tunai,1,barang bekas,1,batubara,1,Bela diri Berhijab,1,Berita,15,Biografi,1,Biografi Tokoh,12,Bisnis,1,bisnis makanan halal di AS,1,blt,1,boy sadikin,1,BPJS Palsu,1,bullying,2,bullying dalam kisah doraemon,1,bullying pada anak,2,buni yani,1,buni yani pengunggah video ahok,1,buni yani tersangka,1,calon gubernur dki,3,Cara,7,Cara Memilih Hewan Kurban,1,cara menghindari bullying,1,che guevara,1,Cium Tangan Politisi,1,cuti kampanye ahok,1,dahlan iskan,1,Dari,1,Dasar,1,demo 2 Desember 2016,1,demo 4 november,2,demo bela islam dan isu makar,1,demo bela islam II,2,demo bela islam III,1,demo BEM seindonesia,1,demo mahasiswa,1,demo tolak pemimpin kafir,1,demo tolak reklamasi,2,Demokrasi,1,Deradikalisasi,1,Detik,1,Dirgahayu TNI,2,dirjen pajak,1,Diusir,1,Donald Trump,3,dosa-dosa bersosial media,1,dukun,2,dukun penipu,2,Dunia Islam,7,dunia mistis,2,Durian Lokal Unggul,1,Ekonomi,4,ekosistem,1,Eksekusi Mati,1,elly risman,6,Email,1,Epilog,1,Erdogan,2,fashion,1,Fethullah Gulen,1,fidel castro,1,fidel castro dies,1,fidel castro meninggal,1,fidel castro wafat,1,Filsafat,1,fotografi,1,gadget,3,Gadget Nokia,1,gafatar,1,Games Terbaru,1,Garam,1,gas air mata,1,Gaya Hidup,3,gaya jilbab,1,Globalisasi,1,GNPF MUI,1,Go-Jek,1,gubernur jawa barat,1,Gula,1,habib rizieq shihab,1,Habibie,4,Haji,4,Haji 2016,1,Hak Asasi Manusia,2,halal haram,1,hari pahlawan,1,hayono isman,1,Hewan,1,Hijab,1,Hoax,1,hujan saat aksi 212,1,Hukum,3,Hutan Indonesia,1,Ibrah Renungan,83,Ideologi,1,Idul Adha,1,Ikan Paus,1,Ilmu,1,ilmu sihir,1,imunisasi,3,Indonesia,3,Indonesia Raya,1,informasi pendidikan,1,Inspirasi,2,Internet,2,ISIS,1,Istri Bung Tomo Tutup Usia,1,Isu Hangat,216,isu makar,1,isu reshuffle Kabinet 2016,2,jajanan anak,1,jajanan berbahaya,1,jajanan sekolah,1,Jalan Raya,1,Jasmani,1,jembatan roboh,1,jilbab,1,jilbab indonesia,1,Joko Widodo,1,Jokowi,2,Jokowi Rombak Kabinet Jilid II,1,jpo pasar minggu roboh,1,jpo roboh,1,kader partai yang membelot di pilkada dki,1,kafir,1,kajian reklamasi,1,Kandungan Vaksin,1,kapolri Tito Karnavian,1,karakteristik korban bullying,1,kartu jakarta pintar,1,kasus penistaan agama,3,kasus vaksin palsu,2,Kata Mutiara Habibie,1,Keamanan Siber,1,Kebudayaan,1,Kebugaran,1,Keislaman,1,kelompok radikal,1,keluarga,2,kemenkes,1,kenapa ahok tidak boleh jadi gubernur,1,Kepemimpinan,1,kerajinan tangan,1,Kerusuhan SARA di Medan,2,Kesehatan,17,Kesehatan Mata,1,Keutamaan,5,kiamat,1,Kisah,1,Kivlan Zein,1,kjp,1,KKR Natal,1,klenik,1,Kolam Renang Unik,1,Komputer,1,Komunikasi,1,konflik suriah,1,Konstitusi,1,Koperasi,1,korban terorisme,1,KPK,1,Kucing,1,Kucing Anggora,1,Kudeta Turki,6,Lingkungan,4,lukas enembe,1,mafia jpo,1,mafia reklame,1,mahesa kurung,1,mahkamah konstitusi,1,Makam Fiktif Di Jakarta,1,makanan halal,1,makna 4 November,1,Malapetaka Duryudana,1,Manajemen,1,Manfaat,1,manfaat daun patah tulang,1,Marketing,1,Masjid,1,Mata,1,Media Sosial,2,megawati soekarnoputri,1,mengenal penipuan skema ponzi,1,menggunakan analytics untuk memenangkan pemilu,1,menjaga kebersihan,1,Metrotv,1,MK,1,MUI,1,Muslim Rohingya,1,Narkoba,1,Nasional,1,Negara,2,ojk,1,Olahraga,40,operasi tangkap tangan KPK,1,Opini,118,Optimalisasi Tax Amnesty Bagi Wajib Pajak dan UMKM,2,Orang Baik,1,orangtua dan anak,3,Organisasi,1,otomotif,2,pahlawan keluarga,1,Pajak,1,Panasbumi,1,pancasila,1,parenting,9,pasangan suami istri,2,Pebalap Lokal Siap Bersaing,1,pegawai ditjen pajak ditangkap KPK,1,pelecehan al quran,1,peluang usaha,1,Pembantaian Muslim,1,pemerintahan jokowi-JK,2,Pemimpin DKI,1,pendidikan,4,pengasuhan anak,7,Pengelolaan Harta,1,pengembang reklamasi,2,Pengertian,34,Pengertian Budaya,1,Pengertian Deradikalisasi,1,Pengertian Pendidikan,1,Pengertian Petahana,1,pengertian provokasi,1,pengertian proxy war,1,pengetahuan,1,pengusaha dan penguasa,1,penipuan,1,penipuan skema piramida,1,Penjarakan Ahok,3,Penutupan Sekolah,1,penyakit akibat tikus,1,penyakit dari sosial media,1,penyakit dari tikus meningkat di musim hujan,1,Perang Narkoba,1,perdukunan,1,Peristia,1,Peristiwa,42,pernikahan,1,pernyataan kapolri tentang demo bela islam III,1,Persis,1,pilkada DKI,4,Pilkada Jakarta 2017,51,Pilpres Amerika,4,PLTU batubara,1,pokemon,2,Polemik Wukuf Di Karbala,1,Politik,20,politik dalam islam,1,Politik Hukum Keamanan,1,politik islam,1,Politik Luar Negeri,1,Polri,1,ponzi scheme,1,Populasi pengguna Internet,1,ppatk,1,praktek perdukunan,1,Predator Anak,1,presiden AS,1,Presiden Joko Widodo,1,Produk Mengandung Babi,1,program cagub DKI,1,program listrik 35.000 MW,1,program perburuan tikus di DKI Jakarta,1,Provokasi,1,psikologi anak,2,Puisi,36,R.A Kartini,1,radikalisme,1,reklamasi teluk jakarta,3,reklamasi untuk siapa,1,renungan,2,Reshuffle Jilid II,7,Reshuffle Kabinet 2016,4,Revisi PP Telekomunikasi,1,Revisi UU Telekomunikasi,1,revolusi jilbab,1,Ridwan Kamil,3,risalah istiqlal,1,rokok,1,ruhut sitompul,1,Rupa,1,Sains,2,sakit jiwa dan sosial media,1,salafi,1,Sampah Jakarta,1,Sandiaga Uno,1,SARA,1,sayembara tikus,1,Sehat secara Islami,1,Sejarah,8,Sejarah Jakarta,1,selingkuh,1,Seni,2,Serba-serbi,4,sertifikat halal,2,seven deadly sins,1,Shalat Tahajud,1,si buni yani,1,Simbol Haji,1,Sistem,1,skema ponzi,1,Soekarno,1,sosial media,1,Sosiologi,1,sosmed,3,Sosok,6,Sri Mulyani,2,stop bullying,2,Suara Mahasiswa Indonesia,1,sugesti,1,sumber energi,1,surat Sri Mulyani,1,Sutan Bhatoegana tutup usia,1,tabligh akbar istiqlal,1,Tanggal Libur 2017,1,Tanjung Balai Medan,2,Tata Cara Berkurban,1,tax amnesty,7,teknologi,8,Telekomunikasi,2,Telkomsel,1,tentang islam,1,terhangat,1,teror perancis 2016,1,Teroris,2,terorisme,2,TNI,1,Tokoh,2,tokoh aksi demo 4 november,1,Tokoh Pers Nasional,1,tokoh-tokoh penistaan agama,2,tolak pemimpin kafir,1,tolak reklamasi,2,Turki,1,uji materi UU Pilkada,1,UNAS,1,Universitas Indonesia,1,unjuk rasa mahasiswa,1,UU sertifikasi produk halal,1,vaksin asli,1,vaksin palsu,5,video,21,wahabisme,1,Wakil Rakyat Main Judi,1,Wiranto,1,Wirausaha,1,wisata,1,Workshop Panasbumi,1,Workshop UI,1,yenny wahid,1,
ltr
item
Ngelmu.com: Yes We Scan: Perjuangan Edward Snowden dan Senjakala Kehidupan Privat
Yes We Scan: Perjuangan Edward Snowden dan Senjakala Kehidupan Privat
https://3.bp.blogspot.com/-yXIOtl0Mfdk/V_7q8JOsKhI/AAAAAAAAHRg/c373HJW7hmo23ZovflIxx8BWUxVjNvovQCLcB/s640/snowden.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-yXIOtl0Mfdk/V_7q8JOsKhI/AAAAAAAAHRg/c373HJW7hmo23ZovflIxx8BWUxVjNvovQCLcB/s72-c/snowden.jpg
Ngelmu.com
http://www.ngelmu.com/2016/10/yes-we-scan-perjuangan-edward-snowden.html
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/2016/10/yes-we-scan-perjuangan-edward-snowden.html
true
2232086029491933273
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy