Belajar dari Trump, Bagaimana Menggunakan Analytics untuk Meraih Dukungan dan Mencapai Kemenangan

SHARE:


Trump dan Clinton disebut-sebut sebagai dua kandidat paling dibenci dalam sejarah pilpres AS. Bagi sebagian rakyat AS, mereka harus memilih "the lesser of two evils". Akhirnya Trump menang dan akan menggantikan Obama.
Kemenangan Donald Trump merebut kursi presiden Amerika Serikat sedikit banyak juga menimbulkan “keributan” di Indonesia. Amerika Serikat memang terletak jauh dari pelupuk mata. Di hati pun tidak dekat-dekat juga – setidaknya untuk sebagian besar rakyat Indonesia. Paling-paling orang Indonesia hanya peduli dengan Amerika kalau kebetulan Hollywood sedang mengeluarkan film box office saja. Tetapi tetap saja, ribut-ribut pemilu di Negeri Paman Sam memang selalu menarik untuk disimak. Pasalnya calonnya selalu saja hanya dua, jadi ributnya juga poll. Mirip-mirip Indonesia di tahun 2014, tapi kalau di sana terjadi di setiap pemilu presiden.

Sosok Trump sendiri juga lumayan diakrabi oleh publik Indonesia. Sebagian – yang lumayan terpelajar – kenal Trump dari acara televisi The Apprentice. Sebagian lagi “kenal” Trump sebagai sosok om senang yang suka wanita cantik dan menjadi penyelenggara Miss Universe. Raut wajahnya yang “lucu” makin tampak “lucu” ketika dia sedang tebar senyum sambil pegang-pegang para kontestan Miss Universe yang berpakaian minim.
 
Presiden ke 45 AS dan para Miss-nya
Toute nation a le gouvernement qu'elle mérite. Every nation gets the government it deserves.” Joseph de Maistre, seorang filsuf Perancis mengatakan hal tersebut. Jadi kemenangan Trump harus diakui dan diterima dengan baik sebagai hasil dari demokrasi Amerika Serikat yang maha hebat itu.

Meskipun demikian tentu saja tidak salah juga jika sosok kontroversial seperti Donald Trump ini membuat banyak pihak tidak puas. Retorika-retorikanya yang rasis dan bigot membuatnya bahkan tidak memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh penting Partai Republik yang mengusungnya. Seluruh media besar di Amerika Serikat memperkirakan bahwa Hillary Clinton akan menang. Tapi semuanya ternyata salah.

Artikel yang disarikan dari tulisan Rob Enderle, presiden dan analis utama Enderle Group mengenai bagaimana Trump mengalahkan Clinton lewat analytics mungkin bisa menjadi masukan bagi pihak-pihak yang saat ini sedang memperjuangkan kemenangan di Indonesia. Bagaimana menggunakan analytics untuk meraih dukungan dan mencapai kemenangan.

Analytics yang dilakukan oleh tim Clinton sebagian besar hanya berisi pesan-pesan anti Trump semata. Hal ini mengakibatkan anggaran besar yang dikeluarkan untuk melakukan analytics tersebut sia-sia belaka. Tim Clinton memang mengeluarkan biaya kampanye yang jauh lebih besar dibanding Trump. Tetapi tampaknya tim Trump berhasil memanfaatkan analytics dengan lebih efektif dan efisien sehingga membawanya kepada kemenangan.

Adalah sebuah ironi bahwa pada dua pemilu presiden sebelumnya Barack Obama berhasil mengalahkan rival-rivalnya dari Partai Republik dengan menggunakan analytics. Dan Trump, meskipun tanpa dukungan yang dari partainya, bisa mencuri ilmu tim Obama lebih baik dibandingkan dengan Clinton yang nota bene mendapatkan dukungan penuh Partai Demokrat. Menurut Enderle permasalahan terbesar bagi pihak yang ingin menggunakan analytics adalah bagaimana memastikan sumber data.

Permasalahan yang Jamak tentang Sumber Data
 
Perubahan perilaku masyarakat, terutama kaum millennials, membuat metodologi pengambilan sampel harus direvolusi.
Enderle mengatakan bahwa ada pergeseran cara masyarakat Amerika Serikat berkomunikasi mengenai isu-isu pemilu, terutama di kalangan para millennials (usia produktif) yang memiliki potensi kuasa dan uang yang besar. Mereka lebih sering menggunakan ponsel dan sudah amat jarang menggunakan telepon rumah. Orang-orang ini lebih berhati-hati dalam menerima telpon. Biasanya mereka tidak akan mengangkat jika ID penelpon tidak dikenal. Jumlah orang yang memiliki perilaku seperti ini sangat besar sehingga menimbulkan potensi gap yang besar dalam metodologi pengambilan sampel (sampling methodology), yang selanjutnya meningkatkan secara signifikan interval keyakinan (confidence intervals). Jadi interval keyakinan terhadap sampel meningkat hingga bisa mencapai 15 persen atau lebih dari yang sebelumnya berkisar di 4-5 persen.

Seiring berjalannya kampanye dari kedua capres, para pendukung Trump dicap buruk dan dijelek-jelekkan oleh media dan pendukung Clinton. Bahkan Hillary sendiri pernah mengatakan bahwa orang-orang yang mendukung lawannya adalah orang yang menjijikkan. Tentu saja retorika-retorika negatif seperti ini tidak akan membuat mereka justru tertarik untuk pindah mendukung Clinton. Ini hanya membuat para pendukung Trump membenci Clinton dan pendukungnya yang telah menjelek-jelekkan mereka. Justru para pendukung Trump menjadi semakin “militan”. Dari sisi analytics untuk tim Clinton, kondisi ini juga menimbulkan masalah. Dengan adanya serangan retorika negatif tersebut para pendukung Trump akan cenderung “bersembunyi”. Dalam survey mereka akan menolak menjawab atau jika tidak mereka akan memberikan jawaban yang salah. Hal ini menciptakan bias yang besar dalam survey tim Clinton dan cukup untuk membuat hasil analytics mereka tidak valid.

Enderle menegaskan bahwa sebagai seorang analist, salah satu pekerjaan besar yang harus dilakukan adalan mengindentifikasi dan menghilangkan bias. Jika tidak dilakukan, analis akan mendorong klien untuk membuat keputusan yang buruk. Dan melihat hasil pilpres, tampaknya tim Clinton memang tidak melakukan pekerjaan mereka dengan baik.

Keuntungan Trump
 
Trump tidak suka dengan hasil yang menunjukkan ia kalah, ia menantang hasil tersebut, dan ia berhasil.
Tidak seperti Clinton, tim Trump berhasil mengidentifikasi kedua isu di atas dan mereka menggunakan perusahaan analytics yang tidak terkenal bernama Cambridge Analytica dan satu perusahaan lain yang tidak diketahui publik yang fokus kepada pemilih Hispanik, yang mampu menghasilkan metodologi yang sama sekali berbeda dengan yang dilakukan tim Clinton. Sepuluh hari sebelum pencoblosan sebuah tim kecil menulis ulang sampling methodology untuk menghilangkan bias dan juga menggaet pemilih potensial yang tidak berhasil didapatkan dengan metode tradisional. Kondisi ini memungkinkan mereka untuk memberikan saran yang lebih baik kepada Trump mengenai kemana ia harus pergi dan bagaimana menggunakan anggaran kampanyenya yang terbatas.

Pendeknya, mereka menyadari bahwa semua orang salah kaprah tentang metodologi konvensional dan mereka memanfaatkan pengetahuan tersebut sebaik mungkin. Tim analytics Trump telah mengumpulkan bukti-bukti kesalahan metodologi tradisional tersebut sejak dari pemilihan awal (preliminaries) di mana Trump harus bersaing dengan para kandidat dari internal Partai Republik. Tim analytics Trump berhasil menciptakan senjata strategis untuk klien mereka dan secara signifikan membalikkan situasi nyaris kalah menjadi salah satu kemenangan paling mengejutkan dalam sejarah pilpres Amerika Serikat.

Salah satu bagian yang tampaknya berhasil untuk Trump adalah ia menolak mempercayai angka-angka buruk yang dilihatnya sehingga timnya terdorong untuk mencari metodologi yang lebih baik. Sementara Clinton sudah menyukai angka-angka yang menunjukkan kemenangannya dan tidak mendorong timnya untuk bekerja dengan lebih maksimal. Hal ini menunjukkan sebuah kasus kesalahan yang jamak terjadi; manusia tidak berusaha lebih keras jika sudah melihat kesuksesan di depan mata dan hal ini nyaris selalu yang menjerumuskan orang yang sukses di awal menuju jurang kekalahan. Persis seperti kisah kelinci dan kura-kura.

Contoh Kedua

Ada perusahaan analytics kedua yang muncul sebagai pahlawan setelah pemilihan presiden. Perusahaan ini bernama Trafalgar Group of Atlanta. Perusahaan ini menyadari adanya permasalahan di mana pendukung Trump cenderung tidak dihitung dengan benar dan jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan realita. Trafalgar Group menyediakan cara yang kreatif untuk mengurangi bias tersebut dan hasilnya terbukti akurat meskipun metodologi mereka ditantang oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar, terkenal dan kaya yang semuanya justru memberikan hasil yang kurang akurat.

Perusahaan-perusahaan “mapan” yang dikalahkan oleh metodologi Trafalgar tersebut beralasan bahwa hasil yang diperoleh Trafalgar memang “benar” tapi “untuk alasan yang salah”. Enderle berpendapat bahwa dalam bisnis ini hasil adalah segalanya dan yang paling penting. Ia menyindir para “ahli” tersebut dengan mengatakan bahwa menjadi ahli dalam membuat alasan bukan sebuah formula yang benar untuk meraih kesuksesan.

3 Peraturan Analytics

Pada akhirnya Enderle memberikan kesimpulannya dengan menekankan 3 peraturan utama dalam menjalankan analytics sehingga hasil yang diperoleh benar.

Pertama, memastikan sumber data. Jika kita tidak memiliki metodologi pengambilan sampel yang tepat kita tidak akan memperoleh hasil yang akurat. Hasil yang tidak akurat akan mengakibatkan klien mengambil keputusan yang buruk.

Kedua, mengidentifikasi dan menghilangkan bias. Bias akan membuat hasil analytics menjadi tidak valid dan jika kita tidak bisa menghilangkan bias maka sekali lagi, kita hanya akan memberikan saran pengambulan keputusan yang buruk kepada klien.

Terakhir, klien/pengambil keputusan harus selalu menantang hasil analytics yang ada di hadapannya, terutama jika hasilnya sudah memuaskan. Pada akhirnya klien adalah pihak yang paling merasakan manfaat/kerugian dari analytics yang salah. Klien bisa saja memecat analis karena telah memberikan saran buruk. Tapi tetap saja yang merasakan “sakitnya tuh di sini” ya kliennya sendiri. So be a smart decission maker!

Congrats, President Trump.


  

COMMENTS

Nama

10 tahun pernikahan,1,14 rumah sakit nakal,1,2 tahun jokowi-JK,2,30 September,1,Administrasi,1,Agung,1,agus yudhoyono,1,aher,1,ahmad musadeq,1,Ahok,17,Ahok Maju Jalur Partai,4,ahok menghina islam,8,ahok tersangka,1,ahok tidak boleh jadi gubernur,1,ahok tidak ditahan,1,ahok tidak mau cuti,1,Air Zam-zam,1,ajaran islam,1,aksi 2 desember,13,aksi 212,19,aksi 312,1,aksi bela islam jilid III,5,aksi damai 212,6,aksi damai bela islam III,6,aksi demo 4 november 2016,6,Akuntnsi,1,al maidah ayat 51,3,alasan ahok tidak ditahan polisi,1,amerika,1,amnesti pajak,1,Anak,5,Anak dan Media,1,anak dan remaja,2,analytics,1,Anies Baswedan,3,automotif,2,ayah muda,1,bachtiar nasir,1,Banjir,1,Bank,1,bantuan langsung tunai,1,barang bekas,1,batubara,1,Bela diri Berhijab,1,Berita,15,Biografi,1,Biografi Tokoh,12,Bisnis,1,bisnis makanan halal di AS,1,blt,1,boy sadikin,1,BPJS Palsu,1,bullying,2,bullying dalam kisah doraemon,1,bullying pada anak,2,buni yani,1,buni yani pengunggah video ahok,1,buni yani tersangka,1,calon gubernur dki,3,Cara,7,Cara Memilih Hewan Kurban,1,cara menghindari bullying,1,che guevara,1,Cium Tangan Politisi,1,cuti kampanye ahok,1,dahlan iskan,1,Dari,1,Dasar,1,demo 2 Desember 2016,1,demo 4 november,2,demo bela islam dan isu makar,1,demo bela islam II,2,demo bela islam III,1,demo BEM seindonesia,1,demo mahasiswa,1,demo tolak pemimpin kafir,1,demo tolak reklamasi,2,Demokrasi,1,Deradikalisasi,1,Detik,1,Dirgahayu TNI,2,dirjen pajak,1,Diusir,1,Donald Trump,3,dosa-dosa bersosial media,1,dukun,2,dukun penipu,2,Dunia Islam,6,dunia mistis,2,Durian Lokal Unggul,1,Ekonomi,4,ekosistem,1,Eksekusi Mati,1,elly risman,6,Email,1,Epilog,1,Erdogan,2,fashion,1,Fethullah Gulen,1,fidel castro,1,fidel castro dies,1,fidel castro meninggal,1,fidel castro wafat,1,Filsafat,1,fotografi,1,gadget,3,Gadget Nokia,1,gafatar,1,Games Terbaru,1,Garam,1,gas air mata,1,Gaya Hidup,3,gaya jilbab,1,Globalisasi,1,GNPF MUI,1,Go-Jek,1,gubernur jawa barat,1,Gula,1,habib rizieq shihab,1,Habibie,4,Haji,4,Haji 2016,1,Hak Asasi Manusia,2,halal haram,1,hari pahlawan,1,hayono isman,1,Hewan,1,Hijab,1,Hoax,1,Hukum,3,Hutan Indonesia,1,Ibrah Renungan,76,Ideologi,1,Idul Adha,1,Ikan Paus,1,Ilmu,1,ilmu sihir,1,imunisasi,3,Indonesia,3,Indonesia Raya,1,informasi pendidikan,1,Inspirasi,2,Internet,2,ISIS,1,Istri Bung Tomo Tutup Usia,1,Isu Hangat,204,isu makar,1,isu reshuffle Kabinet 2016,2,jajanan anak,1,jajanan berbahaya,1,jajanan sekolah,1,Jalan Raya,1,Jasmani,1,jembatan roboh,1,jilbab,1,jilbab indonesia,1,Joko Widodo,1,Jokowi,2,Jokowi Rombak Kabinet Jilid II,1,jpo pasar minggu roboh,1,jpo roboh,1,kader partai yang membelot di pilkada dki,1,kafir,1,kajian reklamasi,1,Kandungan Vaksin,1,kapolri Tito Karnavian,1,karakteristik korban bullying,1,kartu jakarta pintar,1,kasus penistaan agama,3,kasus vaksin palsu,2,Kata Mutiara Habibie,1,Keamanan Siber,1,Kebugaran,1,Keislaman,1,kelompok radikal,1,keluarga,2,kemenkes,1,kenapa ahok tidak boleh jadi gubernur,1,Kepemimpinan,1,kerajinan tangan,1,Kerusuhan SARA di Medan,2,Kesehatan,17,Kesehatan Mata,1,Keutamaan,5,kiamat,1,Kisah,1,kjp,1,klenik,1,Kolam Renang Unik,1,Komputer,1,Komunikasi,1,konflik suriah,1,Konstitusi,1,Koperasi,1,korban terorisme,1,KPK,1,Kucing,1,Kucing Anggora,1,Kudeta Turki,6,Lingkungan,4,lukas enembe,1,mafia jpo,1,mafia reklame,1,mahesa kurung,1,mahkamah konstitusi,1,Makam Fiktif Di Jakarta,1,makanan halal,1,makna 4 November,1,Malapetaka Duryudana,1,Manajemen,1,Manfaat,1,manfaat daun patah tulang,1,Marketing,1,Masjid,1,Mata,1,Media Sosial,2,megawati soekarnoputri,1,mengenal penipuan skema ponzi,1,menggunakan analytics untuk memenangkan pemilu,1,menjaga kebersihan,1,Metrotv,1,MK,1,MUI,1,Muslim Rohingya,1,Narkoba,1,Nasional,1,Negara,2,ojk,1,Olahraga,40,operasi tangkap tangan KPK,1,Opini,114,Optimalisasi Tax Amnesty Bagi Wajib Pajak dan UMKM,2,Orang Baik,1,orangtua dan anak,3,Organisasi,1,otomotif,2,pahlawan keluarga,1,Pajak,1,Panasbumi,1,pancasila,1,parenting,9,pasangan suami istri,2,Pebalap Lokal Siap Bersaing,1,pegawai ditjen pajak ditangkap KPK,1,pelecehan al quran,1,peluang usaha,1,Pembantaian Muslim,1,pemerintahan jokowi-JK,2,Pemimpin DKI,1,pendidikan,4,pengasuhan anak,7,Pengelolaan Harta,1,pengembang reklamasi,2,Pengertian,33,Pengertian Budaya,1,Pengertian Deradikalisasi,1,Pengertian Pendidikan,1,Pengertian Petahana,1,pengertian provokasi,1,pengertian proxy war,1,pengetahuan,1,pengusaha dan penguasa,1,penipuan,1,penipuan skema piramida,1,Penjarakan Ahok,3,Penutupan Sekolah,1,penyakit akibat tikus,1,penyakit dari sosial media,1,penyakit dari tikus meningkat di musim hujan,1,Perang Narkoba,1,perdukunan,1,Peristia,1,Peristiwa,34,pernikahan,1,pernyataan kapolri tentang demo bela islam III,1,Persis,1,pilkada DKI,4,Pilkada Jakarta 2017,51,Pilpres Amerika,4,PLTU batubara,1,pokemon,2,Polemik Wukuf Di Karbala,1,Politik,20,politik dalam islam,1,Politik Hukum Keamanan,1,politik islam,1,Politik Luar Negeri,1,Polri,1,ponzi scheme,1,Populasi pengguna Internet,1,ppatk,1,praktek perdukunan,1,Predator Anak,1,presiden AS,1,Presiden Joko Widodo,1,Produk Mengandung Babi,1,program cagub DKI,1,program listrik 35.000 MW,1,program perburuan tikus di DKI Jakarta,1,Provokasi,1,psikologi anak,2,Puisi,33,R.A Kartini,1,radikalisme,1,reklamasi teluk jakarta,3,reklamasi untuk siapa,1,renungan,2,Reshuffle Jilid II,7,Reshuffle Kabinet 2016,4,Revisi PP Telekomunikasi,1,Revisi UU Telekomunikasi,1,revolusi jilbab,1,Ridwan Kamil,3,risalah istiqlal,1,rokok,1,ruhut sitompul,1,Rupa,1,Sains,2,sakit jiwa dan sosial media,1,salafi,1,Sampah Jakarta,1,Sandiaga Uno,1,SARA,1,sayembara tikus,1,Sehat secara Islami,1,Sejarah,8,Sejarah Jakarta,1,selingkuh,1,Seni,2,Serba-serbi,4,sertifikat halal,2,seven deadly sins,1,Shalat Tahajud,1,si buni yani,1,Simbol Haji,1,Sistem,1,skema ponzi,1,Soekarno,1,sosial media,1,Sosiologi,1,sosmed,3,Sosok,3,Sri Mulyani,2,stop bullying,2,Suara Mahasiswa Indonesia,1,sugesti,1,sumber energi,1,surat Sri Mulyani,1,Sutan Bhatoegana tutup usia,1,tabligh akbar istiqlal,1,Tanggal Libur 2017,1,Tanjung Balai Medan,2,Tata Cara Berkurban,1,tax amnesty,7,teknologi,8,Telekomunikasi,2,Telkomsel,1,tentang islam,1,terhangat,1,teror perancis 2016,1,Teroris,2,terorisme,2,TNI,1,Tokoh,2,tokoh aksi demo 4 november,1,Tokoh Pers Nasional,1,tokoh-tokoh penistaan agama,2,tolak pemimpin kafir,1,tolak reklamasi,2,Turki,1,uji materi UU Pilkada,1,UNAS,1,Universitas Indonesia,1,unjuk rasa mahasiswa,1,UU sertifikasi produk halal,1,vaksin asli,1,vaksin palsu,5,video,16,wahabisme,1,Wakil Rakyat Main Judi,1,Wiranto,1,Wirausaha,1,wisata,1,Workshop Panasbumi,1,Workshop UI,1,yenny wahid,1,
ltr
item
Ngelmu.com: Belajar dari Trump, Bagaimana Menggunakan Analytics untuk Meraih Dukungan dan Mencapai Kemenangan
Belajar dari Trump, Bagaimana Menggunakan Analytics untuk Meraih Dukungan dan Mencapai Kemenangan
http://midnightsunak.com/wp-content/uploads/2016/10/clinton-vs-trump-1.jpg
https://img.youtube.com/vi/dEk7m793CFU/default.jpg
Ngelmu.com
http://www.ngelmu.com/2016/11/belajar-dari-trump-bagaimana.html
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/2016/11/belajar-dari-trump-bagaimana.html
true
2232086029491933273
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy