Mengenalkan Konsep "Uang Tidak Jatuh dari Langit" pada Anak


Foto: thefix


Oleh Sarra Risman
Psikolog dan Trainer Yayasan Kita dan Buah Hati


Ngelmu.com - Anak-anak harus mengetahui konsep bahwa uang tidak jatuh dari langit, harus pakai usaha, keringat, dan tidak pakai malas. Salah satu cara unik yang bisa dilakukan adalah melibatkan anak-anak untuk ikut bekerja dengan ayah atau ibunya.

Melibatkan anak dalam seluruh aktivitas Anda sehari-hari itu semi-wajib, apakah itu dalam kegiatan sehari-hari (seperti mencuci piring sendiri, merapikan tempat tidur), ibadah (dari yang wajib sampai yang sunnah), berbicara, berpakaian, dan lain sebagainya, ataupun hal-hal yang tidak bisa Anda libatkan setiap harinya. Salah satu cara unik yang baru saja akhir-akhir ini saya lakukan adalah melibatkan anak-anak untuk ikut bekerja dengan ayah.

Zaman saya sekolah dulu, ada hari yang namanya "bring-your-kids-to-work day". Itu adalah hari dimana (teman-teman yang pernah tinggal di luar juga pasti pada tahu) anak-anak boleh bolos dan ikut ke ‘kantor’ ibu dan ayahnya seharian. Dan semua kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan juga sudah diinformasikan bahwa hari tersebut akan banyak anak yang akan ikut ayah dan ibunya ke kantor. Mulai dari CEO perusahaan ternama sampai tukang cuci kamar mandi sekolah.

Apa yang dilakukan anak? Melakukan apa yang ayah atau ibunya lakukan sepanjang hari. Yang dokter ya bantu periksa pasien, yang tentara ya latihan menembak (mungkin), yang pembersih WC ya ikut membersihkan WC, dan seterusnya...sepanjang hari. Apa yang dipelajari anak dari proses ini?

1. Hidup itu susah

Uang tidak turun dari langit hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Yang ayahnya direktur ya harus rapat pakai otak, me-manage bawahannya yang mungkin ribuan, menangani masalah yang berat-berat, presentasi, dan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Dari situ anak belajar strategic planning, problem solving, keberanian untuk tampil di depan orang dan negosiasi. Yang ayahnya tukang sampah tahu bahwa ayahnya membanting tulang, bergumul dengan buangan orang lain, dengan tenaga, menahan bau, sepanjang hari, lebih dari 300 hari setahun, selama..berapa..30 tahun?? Dari situ anak belajar kebersihan, daur ulang, dan adversitas. Belum yang ayahnya tentara, ibunya waitress di restoran, ayahnya pilot dan ibunya dokter. Bayangkan betapa banyak yang bisa anak pelajari?

2. Malas bukan pilihan

Yang ibunya guru, anaknya bisa lihat ibunya berdiri di depan kelas berjam-jam, mengoreksi soal setelah murid-murid pulang, dan menyiapkan untuk pelajaran esok hari. Yang ibunya buka katering, anak bisa lihat bahwa tangan ibu yang luka-luka itu karena tangannya terpotong pisau dan terpercik minyak panas. Dan setelah memasak, ibu masih harus menaruh makanan tersebut ke tempat-tempatnya, dan mengantarnya ke masing-masing pelanggan. Untuk bisa hidup, orang harus bekerja. Ada proses yang harus dilalui, dan malas bukan pilihan.

3. Syukur

Ini konsep abstrak yang paling penting. karena selama ini konsep ini umumnya tidak dimiliki anak-anak. Mereka tidur di ruangan ber-AC. Tidak tahu-menahu yang beli AC pakai keringat siapa, yang bayar listrik AC tersebut pakai lelahnya siapa. Bangun, makan pagi, tahu-tahunya sudah tersedia semua di atas meja. Yang bayar roti, nasi, dan gas yang memasaknya, terima jadi. Sekolah di tempat yang terbaik yang orangtuanya bisa bayar (yang kadang sebetulnya enggak bisa bayar, cuma karena anaknya minta di situ, dipaksakan bisa). Di antar jemput, yang bayar bensin juga enggak peduli siapa. Pulang, main tab, mandi, makan lagi, semua dilakukan tanpa rasa syukur. Mereka pikir hidup enak amat karena hidup itu enak bagi mereka. Mereka tahu bapak (dan ibunya) kerja, tapi mereka tidak tahu sekeras apa bapak harus bekerja untuk hidup mereka yang enak itu.

Dulu, di hari "bring-your-kids-to-work day", karena ayah saya tidak bekerja karena beliau sedang mengejar pendidikan S3-nya, saya jadi ikut ibu yang kadang menjadi babysitter dari hampir 10 anak-anak, dari bayi 2 minggu sampai anak kelas 3 SD, atau menjadi ‘pembantu pulang-pergi’ dari seorang super kaya yang ada di kota kami itu. Jadi, saya ikut menjaga anak-anak, menceboki, dan menyuapi anak-anak itu, dan membantu memotong bahan makanan sambil ibu saya mempersiapkan makan malam untuk orang kaya, tapi baik hati. Luar biasa apa yang saya bisa pelajari dari pengalaman tersebut yang menjadikan saya orang seperti saya sekarang ini.

Foto: parents
Berbekal pengalaman itu namun karena saya belum dikasih kesempatan oleh Allah untuk membesarkan anak-anak saya di luar negri, saya harus cari jalan agar anak-anak saya memiliki pengalaman yang sama. Tapi karena kantor suami saya super ketat pengamanannya, jadi saya pikir kami hanya akan bisa sampai ke depan gedungnya saja.

Hampir setiap hari ayahnya bercerita tentang betapa penuhnya kereta api di saat dia pulang dan pergi bekerja. Saya pikir, "Haa…! Anak-anak harus tahu bagaimana perjuangan ayahnya setiap hari." So pergilah kami ke Stasiun Sudimara suatu pagi pas liburan tengah semester kemarin. Malamnya sudah saya jelaskan apa yang akan kita lakukan esok hari dan kenapa. Sesampainya di peron, saya menjelaskan lagi apa yang akan kita hadapi. Sepasang suami istri yang mendengarkan penjelasan saya kepada anak saya, senyum-senyum sendiri, mungkin saking anehnya ‘kejadian’ ini.

Awal masuk kereta saja, sudah luar biasa penuhnya, tapi lumayanlah, masih bisa bernapas. Si kecil yang berusia 2 tahun digendong ayahnya, yang sulung usia 6,5 tahun bersama saya. Dari satu stasiun ke stasiun lainnya semakin padat dan akhirnya anak saya, yang sebetulnya persis di depan saya, sampai tidak tampak saking tenggelamnya di arus orang-orang dewasa yang sudah tidak manusiawi itu. Orang-orang yang di sekitar kami sudah berteriak-teriak mengatakan, “Ada anak kecil, jangan dorong." Tapi, arus yang masuk mana peduli kan?

Tadinya saya berpikir bisa membuat "pagar tangan" untuk melindungi anak saya dari gencetan manusia. Ternyata, bayangan saya tentang ‘penuh’nya kereta seperti yang suami saya ceritakan, berbeda dengan kenyataannya. Mau saya gendong, tidak bisa juga, karena selain anak saya pastinya sudah sangat berat, keadaan sudah tidak memungkinkan. Akhirnya dua orang bapak-bapak berbaik hati berdiri dari kursinya dan memberikan kami duduk. Ayah menyodorkan si kecil untuk ikut duduk dan lama-lama tidak tampak lagi oleh kami, terdesak entah kemana diantara kerumunan banyaknya manusia.

Lima stasiun setelah itu, di tujuan akhir Tanah Abang, akhirnya semuanya keluar dan kami kembali bertemu dengan ayah. Rencana awalnya kita juga mau ikut sama ayahnya naik angkot, (biar anak-anak tahu bahwa ‘penderitaan’ ayahnya belum berakhir di Tanah Abang), cuma melihat keadaan anak-anak, saya rasa itu sudah tidak bijak. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan say bye-bye sama ayah yang akan meneruskan ‘perjalanan jihad’nya.

Perjalanan pulang jauh lebih lapang. Sesampainya di rumah, dan semuanya telah cukup beristirahat, saya bilang sama anak saya yang sulung, "Yang kita lewati itu baru satu step dari perjalanan yang biasanya ayah tempuh dan lihat bagaimana susahnya. Ayah begitu setiaapppp hari nak, lima kali seminggu, bertahun-tahun-tahun. Banyak step yang kita tidak jalani yang biasa ayah lewati. Jalan dari rumah sampai depan komplek, naik angkot ke Sudimara, ngelewatin sesak seperti tadi, naik angkot lagi sampai ke kantornya. Di kantor kerja sampai jam 5. Pulang melalui proses yang sama. Hidup itu nak ..susah. Uang tidak jatuh dari langit, harus pakai usaha, keringat, dan enggak pakai malas."

Bensin, sekolah, AC, listrik, makanan, dan kenikmatan-kenikmatan lain yang kamu nikmati, semua karena ayah melewati proses itu. Setiap hari. lima kali seminggu. Bertahun-tahun-tahun. Jadi, kita harus bersyukur. Bersyukur sama Allah sudah memberikan ayah pekerjaan. Dan berterima kasih sama ayah yang mau melakukan itu untuk kita, biar kita bisa makan, sekolah, dan hidup enak.
Tentunya kata-kata saya sudah tidak perlu lagi, karena dia sudah melewati sendiri prosesnya. Dia tahu betul bagaimana dia kegencet begitu rupa. Sekarang, mereka jadi jauh lebih menghargai ayahnya. Kalau ayah pulang, dikasih air minum dan lain sebagainya.

Saya tahu, jutaan ayah lain mungkin bekerja lebih keras, tapi untuk anak saya, itu sudah cukup ‘keras’ dibanding kehidupannya yang nyaman setiap hari. Saya berencana melakukan ini setiap kali liburan tiba, apalagi anak saya kedua-duanya laki-laki. Proses ini sekalian memberikan gambaran bahwa laki-laki harus bekerja, untuk istri dan anaknya. Semoga proses ngantor (dan kehidupan) mereka kelak jauh lebih nyaman dari ayahnya. Tapi konsep-konsep yang mereka pelajari dari proses ini tetap saya anggap penting untuk menjadikan mereka laki-laki dewasa yang baik dan bertanggung jawab.

Saya sangat berharap suatu hari Pemerintah Indonesia menggalakkan program yang sama karena saya lihat proses ini banyak manfaatnya. Tapi jangan tunggu pemerintah, go ahead...and bring your kids to work!

COMMENTS

loading...
Nama

#PrayforAleppo,4,10 tahun pernikahan,1,14 rumah sakit nakal,2,2 tahun jokowi-JK,3,30 September,2,Aa Gym,1,Aceh,3,Aceng Rahmat,1,Administrasi,2,adversity quotient,2,Agung,1,agus yudhoyono,5,aher,1,ahmad musadeq,1,Ahok,25,Ahok Maju Jalur Partai,4,ahok menghina islam,10,ahok tersangka,5,ahok tidak boleh jadi gubernur,3,ahok tidak ditahan,1,ahok tidak mau cuti,1,AIMI,1,Air Zam-zam,1,ajaran islam,1,Akbar Hashemi Rafsanjani,1,aksi 121,2,Aksi 1212,1,aksi 2 desember,13,aksi 212,22,aksi 312,1,aksi 412,2,Aksi Bela Islam,1,aksi bela islam jilid III,6,aksi BEM,1,aksi damai 212,7,aksi damai bela islam III,8,aksi demo 4 november 2016,6,aksi mahasiswa 121,2,aksi mata-mata,1,Akuntnsi,1,al maidah ayat 51,4,alasan ahok tidak ditahan polisi,1,Aleppo,2,amerika,1,amnesti pajak,1,Anak,5,anak bermain,1,Anak dan Media,1,anak dan remaja,2,Anak korban perang di Suriah,1,analytics,1,Angelius Wake Kako,1,Anies Baswedan,9,Anton Charliyan,1,ASI,3,automotif,2,ayah muda,1,bachtiar nasir,1,Banjir,2,Bank,1,Bantuan,1,bantuan langsung tunai,1,barang bekas,1,Bashar,1,batubara,1,Bela diri Berhijab,1,Bela Rakyat,1,BEM,1,Bendera Tauhid,1,Berita,15,berita terkini Aleppo,3,Biksu,1,binjai sumut,1,Biografi,1,Biografi Tokoh,12,Bisnis,9,bisnis makanan halal di AS,1,blt,1,boy sadikin,1,BPJS Palsu,1,brealfie,1,bullying,3,bullying dalam kisah doraemon,1,bullying pada anak,3,buni yani,1,buni yani pengunggah video ahok,1,buni yani tersangka,1,Cagu,1,Cagub-Cawagub DKI,2,calon gubernur dki,4,Cara,7,Cara Memilih Hewan Kurban,1,cara menghindari bullying,2,che guevara,1,Cium Tangan Politisi,1,Cristiano Ronaldo,1,cuti kampanye ahok,1,dahlan iskan,1,Dari,1,Dasar,1,Database,1,debat gubernur jakarta,3,debat pilkada jakarta,5,Debat Terbuka,2,Debat Terbuka Perdana,2,Demo,2,demo 2 Desember 2016,1,demo 4 november,2,demo bela islam dan isu makar,1,demo bela islam II,2,demo bela islam III,1,demo BEM seindonesia,1,Demo FPI 161,3,demo mahasiswa,3,demo tolak pemimpin kafir,1,demo tolak reklamasi,2,Demokrasi,1,Deradikalisasi,1,desain rupiah baru,5,Detik,1,dialog nasional,1,Din Syamsuddin,2,Dirgahayu TNI,2,dirjen pajak,1,Diusir,1,djarot,3,Doa,3,Donald Trump,3,dosa-dosa bersosial media,1,dr Utami Roesli,1,Drama,1,dukun,2,dukun penipu,2,Dunia Islam,7,dunia mistis,2,Durian Lokal Unggul,1,Ekonomi,4,ekosistem,1,Eksekusi Mati,1,elly risman,10,Email,1,Enni Sri Hartati,1,Epilog,1,Erdogan,3,Fahmi Darmawansyah,1,fashion,1,Fatwa MUI,2,Fethullah Gulen,1,fidel castro,1,fidel castro dies,1,fidel castro meninggal,1,fidel castro wafat,1,Filsafat,1,fotografi,1,FPI,7,gadget,3,Gadget Nokia,1,Gadis Cacat,1,gafatar,1,Games Terbaru,1,Garam,1,gas air mata,1,Gaya Hidup,3,gaya jilbab,1,Geografi,2,Gerindra,1,Globalisasi,1,GMBI,5,GNPF MUI,1,Go-Jek,1,Gubernur Jambi,1,gubernur jawa barat,1,Gula,1,Habib Rizieq,5,habib rizieq shihab,10,Habibie,4,Haji,4,Haji 2016,1,Hak Asasi Manusia,2,halal haram,1,Hari Ibu,1,hari pahlawan,1,hayono isman,1,Hewan,1,Hijab,1,Hoax,1,Hotel Novita Jambi,1,Hubungan,1,hujan saat aksi 212,1,Hukum,3,Hutan Indonesia,1,Ibrah Renungan,107,Ibu,1,ibu dan anak,3,Ideologi,1,Idul Adha,1,Ikan Paus,1,Ilmu,1,ilmu sihir,1,Imam Besar FPI,1,Imam Besar Pemimpin Republik Indonesia,1,Imam Prasodjo,1,Iman,1,IMD,1,imunisasi,3,Indonesia,3,Indonesia Raya,1,informasi pendidikan,1,Inneke Koesherawati,1,Inspirasi,2,Internasional,2,Internet,2,Investasi,1,Ira Koesno,1,Iran,1,ISIS,1,Islam,1,islamophobia,1,Istri Bung Tomo Tutup Usia,1,Isu Hangat,318,isu makar,1,isu reshuffle Kabinet 2016,2,jajanan anak,1,jajanan berbahaya,1,jajanan sekolah,1,Jalan Raya,1,janji kandidat gubernur jakarta,1,Jaringan,1,Jasmani,1,Jatuh,2,jembatan roboh,1,jilbab,1,jilbab indonesia,1,Joko Widodo,1,Jokowi,2,Jokowi Rombak Kabinet Jilid II,1,jpo pasar minggu roboh,1,jpo roboh,1,kader partai yang membelot di pilkada dki,1,kafir,1,kajian reklamasi,1,Kandungan Vaksin,1,kanker payudara,1,kapal induk,1,Kapolda Jabar,1,Kapolda Jawa Barat,1,kapolri Tito Karnavian,1,karakteristik korban bullying,1,kartu jakarta pintar,1,kasus penistaan agama,4,kasus vaksin palsu,2,Kata Mutiara Habibie,1,Keamanan Siber,4,Kebudayaan,1,Kebugaran,1,Keislaman,1,kelompok radikal,1,keluarga,2,kemenkes,1,kenapa ahok tidak boleh jadi gubernur,1,Kepemimpinan,1,Kepulauan Seribu,1,kerajinan tangan,1,Kerusuhan SARA di Medan,2,Kesehatan,21,Kesehatan Mata,1,kesehatan wanita,1,Keutamaan,5,kiamat,1,Kisah,2,Kivlan Zein,1,kjp,1,KKR Natal,1,klenik,1,Kolam Renang Unik,1,Komnas HAM,1,Kompetisi Halal Dunia,1,Komputer,2,Komunikasi,1,Konflik,1,konflik suriah,3,Konsolidasi,1,Konstitusi,1,Konsultasi Syari'ah,2,Koperasi,1,korban terorisme,1,Korupsi,1,KPK,1,KPU DKI,1,Kucing,2,Kucing Anggora,1,Kudeta Turki,6,kuliner,1,Lafadz Alloh,1,Lagu,1,Laut Hitam,2,liburan,1,Lingkungan,4,Literasi,1,LSM,1,lukas enembe,1,Lukisan,1,Mabes Polri,1,mafia jpo,1,mafia reklame,1,Mahasiswa,1,mahesa kurung,1,mahkamah konstitusi,1,Majelis Ulama Indonesia,1,Makam Fiktif Di Jakarta,1,makanan halal,1,Makar,1,makna 4 November,1,Malapetaka Duryudana,1,Manajemen,1,Manfaat,2,manfaat daun patah tulang,1,Mantan,1,Marketing,1,Masjid,1,Mata,1,mata-mata,1,Maulid Nabi,1,Media Sosial,2,megawati soekarnoputri,1,mengenal penipuan skema ponzi,1,menggunakan analytics untuk memenangkan pemilu,1,menjaga kebersihan,1,menyusui,3,Metrotv,1,MK,1,Moderator,1,MUI,5,Muslim Rohingya,1,Myanmar,1,Narkoba,1,Nasional,1,Natal,2,Negara,2,Norma,1,ojk,1,Olahraga,40,om telolet om,1,operasi tangkap tangan KPK,1,Opini,145,Optimalisasi Tax Amnesty Bagi Wajib Pajak dan UMKM,2,Orang Baik,1,orangtua dan anak,7,Organisasi,1,ormas,1,Ormas Dayak,1,otomotif,2,pahawan di uang rupiah,4,pahlawan dalam rupiah baru,5,pahlawan keluarga,1,Pajak,1,Panasbumi,1,pancasila,1,Panelis,1,Panggil,1,panti rehabilitasi Yayasan Kasih Anugerah Bangsa,1,Pantun,1,parenting,18,pasangan suami istri,3,pasien panti rehabilitasi disiksa,1,Pebalap Lokal Siap Bersaing,1,pegawai ditjen pajak ditangkap KPK,1,pelecehan al quran,1,peluang usaha,1,Pembantaian Muslim,1,pembunuhan pulomas,1,pemerintahan jokowi-JK,2,Pemimpin DKI,1,pendidikan,5,Penembakan,1,pengasuhan anak,10,Pengelolaan Harta,1,pengembang reklamasi,2,Pengertian,53,Pengertian Budaya,1,Pengertian Deradikalisasi,1,Pengertian Pendidikan,1,Pengertian Petahana,1,pengertian provokasi,1,pengertian proxy war,1,pengetahuan,1,Pengungsi Rohingya,1,pengusaha dan penguasa,1,Pengusiran,1,penipuan,1,penipuan skema piramida,1,Penistaan Agama,2,Penjarakan Ahok,3,Penutupan Sekolah,1,penyakit,1,penyakit akibat tikus,1,penyakit dari sosial media,1,penyakit dari tikus meningkat di musim hujan,1,penyakit lupus,1,Perang Narkoba,1,perang Suriah,4,perdukunan,1,pergantian desain uang rupiah,4,Peringatan,1,Peristia,1,Peristiwa,57,pernikahan,1,pernyataan kapolri tentang demo bela islam III,1,Persis,1,Pesawat Militer Rusia,2,Peserta,1,Pilgub DKI Jakarta,1,pilkada DKI,8,Pilkada Jakarta 2017,101,Pilpres Amerika,4,PLTU batubara,1,pokemon,2,Polemik Wukuf Di Karbala,1,Polisi,1,Politik,23,politik dalam islam,1,Politik Hukum Keamanan,1,politik islam,1,Politik Luar Negeri,1,Polri,1,ponzi scheme,1,Populasi pengguna Internet,1,PP-PMKRI,1,ppatk,1,Prabowo,1,praktek perdukunan,1,Predator Anak,1,Presiden,1,presiden AS,1,Presiden Joko Widodo,2,Presiden Turki,1,Produk Mengandung Babi,1,program anies-sandi,1,program cagub DKI,2,program listrik 35.000 MW,1,program perburuan tikus di DKI Jakarta,1,Provokasi,1,psikologi anak,3,Puisi,54,R.A Kartini,1,radikalisme,1,reformasi,1,reklamasi teluk jakarta,3,reklamasi untuk siapa,1,renungan,2,Reshuffle Jilid II,7,Reshuffle Kabinet 2016,4,Revisi PP Telekomunikasi,1,Revisi UU Telekomunikasi,1,revolusi jilbab,1,Ridwan Kamil,3,risalah istiqlal,1,rokok,1,ruhut sitompul,1,rumah tangga,1,Rupa,1,rupiah baru,5,Rusia,1,Sains,2,sakit jiwa dan sosial media,1,salafi,1,Sampah Jakarta,1,Sandiaga Uno,5,SARA,1,sayembara tikus,1,Sehat secara Islami,1,Sejarah,13,Sejarah Jakarta,1,Sejarah Natal,1,Sel,1,selingkuh,1,Seni,2,Sepak Bola,1,Serba-serbi,4,sertifikat halal,3,seven deadly sins,1,Shalat Tahajud,1,Sholat Shubuh,2,si buni yani,1,Sidang,3,Simbol Haji,1,Sintang,1,Sistem,1,skema ponzi,1,Soekarno,1,sosial media,1,Sosiologi,1,sosmed,3,Sosok,14,srebrenica,1,Sri Mulyani,2,stasiun televisi,1,Statistika,1,stop bullying,2,Suara Mahasiswa Indonesia,1,sugesti,1,sumber energi,1,surat Sri Mulyani,1,Suriah,6,Sutan Bhatoegana tutup usia,1,sylviana murni,3,Tabligh Akbar,2,tabligh akbar istiqlal,1,Tahanan Perempuan,1,tahun baru,2,Tanggal Libur 2017,1,Tanjung Balai Medan,2,Tata Cara Berkurban,1,tax amnesty,7,teknologi,11,Telekomunikasi,2,Telkomsel,1,Tengku Zulkarnain,1,tentang islam,1,terhangat,1,Terkini,4,teror perancis 2016,1,Teroris,2,terorisme,2,timnas Indonesia,1,tindakan subversif WN Cina,1,Tips,1,TNI,1,Tokoh,2,tokoh aksi demo 4 november,1,Tokoh Pers Nasional,1,tokoh-tokoh penistaan agama,2,tolak pemimpin kafir,3,tolak reklamasi,2,Tour Jakarta,1,tragedi suriah,1,Turki,2,uang baru,2,uji materi UU Pilkada,1,Ulos,1,UNAS,1,Universitas Indonesia,1,unjuk rasa mahasiswa,2,Ustadz Bachtiar Nasir,1,UU sertifikasi produk halal,1,vaksin asli,1,vaksin palsu,5,Vespa,1,video,63,Wafat Saat Sujud,1,wahabisme,1,Wakil Rakyat Main Judi,1,Wali Kota Jambi,1,Warga Cina tanam benih cabe berbakteri,1,Wayang,1,Wiranto,1,Wirausaha,1,Wirausahawan,1,wisata,1,Workshop Panasbumi,1,Workshop UI,1,Yayat Supriyatna,1,yenny wahid,1,Yusuf Mansur,2,
ltr
item
Ngelmu.com: Mengenalkan Konsep "Uang Tidak Jatuh dari Langit" pada Anak
Mengenalkan Konsep "Uang Tidak Jatuh dari Langit" pada Anak
https://2.bp.blogspot.com/-_mdX0Khqkys/WClbmnn2QkI/AAAAAAAAAPY/-_O7SD-zvzgFDMh5e5lkzdlhONt4LtHVACLcB/s640/anak%2Bdan%2Borangtua%2Bngobrol_thefix.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-_mdX0Khqkys/WClbmnn2QkI/AAAAAAAAAPY/-_O7SD-zvzgFDMh5e5lkzdlhONt4LtHVACLcB/s72-c/anak%2Bdan%2Borangtua%2Bngobrol_thefix.jpg
Ngelmu.com
http://www.ngelmu.com/2016/11/mengenalkan-konsep-uang-tidak-jatuh.html
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/
http://www.ngelmu.com/2016/11/mengenalkan-konsep-uang-tidak-jatuh.html
true
2232086029491933273
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy